Selasa, 14 November 2017

laporan pendahuluan proses menua

LAPORAN PENDAHUAN
PROSES MENUA

1.      DEFINISI
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepajang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti telah melalui 3 tahap kehidupannya yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya pemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan postur tubuh tidak proporsional.
WHO dan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa umur 60  tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian.
Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk mememperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
Proses menua merupakan proses yang terus-menerus (berkelanjutan) secara alamiah dan umumnya dialami oleh semua makhluk hidup. Misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan pada saraf dan jaringan lain, hingga tubuh mati sedikit demi sedikit.
Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu (Stanley and Patricia, 2006).
Proses menua merupakan suatu yang fisiologis, yang akan dialami oleh setiap orang. Batasan orang dikatakan lanjut usia berdasarkan UU No 13 tahun 1998 adalah 60 tahun.Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000).
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. (Constantindes, 1994).

2.      ETIOLOGI
Banyak factor yang menyebabkan setiap orang menjadi tua melalui proses penuaan. Pada dasarnya berbagai factor tersebut dapat dikelompokan menjadi factor internal adalah radikal bebas, hormone yang menurun kadarnya, proses glikosilasi, system kekebalan tubuh yang menurun dan juga factor genetic. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor gaya hidup yang tidak sehat, kebiasaan hidup yang salah, paparan polusi lingkungan dan sinar ultraviolet, stress dan penyebab social lain seperti kemiskinan. Kedua faktor ini saling terkait dan memainkan peran yang besar dalam penyebab proses penuaan.
Tubuh kita membuat suatu reaksi kimia kompleks yang membentuk suatu molekul kimia yang tidak stabil yang disebut radikal bebas. Molekul radikal bebas ini dapat menyebabkan kerusakan pada sel yang sehat melalui suatu proses yang disebut dengan oksidasi. Proses ini sama seperti proses yang kita lihat pada apel hijau yang berubah warna menjadi warna coklat atau logam tembaga yang berubah warna dari emas kemerahan menjadi biru kehijauan. Produksi radikal bebas ini dapat meningkat jumlahnya apabila kita sering terpapar oleh sinar matahari, merokok, polusi udara dan mengkonsumsi makanan yang rendah nilai gizinya.Proses radikal bebas yang semakin meningkat dalam tubuh kita memberi kontribusi yang besar terhadap terjadinya proses penuaan berbagai organ tubuh.
Stress juga berperan besar pada semakin cepatnya proses penuaan terjadi.Stress dalam hal ini tidak hanya terkait dengan psikologis tetapi juga jasmani. Apabila tubuh kita mengalami kerusakan, maka tubuh akan mencoba untuk memulihkan diri sendiri. Pada batas tertentu tubuh dapat pulih namun tidak seratus persen dan tentu tidak semua pada kasus. Semakin sering tubuh kita sering mengalami stress maka makin kecil kemungkinan tubuh untuk pulih akibatnya tubuh menua dan menjadi rentan terhadap penyakit. Apa yang menyebabkan tubuh kita  tidakbisa sepenuhnya memulihkan kerusakan tadi belum diketahui.





3.      TANDA DAN GEJALA
Tanda dan Gejala menurutPatricia Gonce Morton dkk, 2011 yaitu:
1.    Perubahan Organik
a)        Jumlah jaringan ikat dan kolagen meningkat.
b)        Unsur seluler pada sistem saraf, otot, dan organ vital lainnya menghilang.
c)        Jumlah sel yang berfungsi normal menurun.
d)       Jumlah lemak meningkat.
e)        Penggunaan oksigen menurun.
f)         Selama istirahat, jumlah darah yang dipompakan menurun.
g)        Jumlah udara yang diekspirasi paru lebih sedikit.
h)        Ekskresi hormon menurun.
i)          Aktivitas sensorik dan persepsi menurun
j)          Penyerapan lemak, protein, dan karbohidrat menurun.
k)        Lumen arteri menebal

2.    Sistem Persarafan
Tanda:
a)      Penurunan jumlah neuron dan peningkatan ukuran dan jumlah sel neuroglial.
b)      Penurunan syaraf dan serabut syaraf.
c)      Atrofi otak dan peningkatan ruang mati dalam kranim
d)     Penebalan leptomeninges di medulla spinalis.
Gejala:
a)      Peningkatan risiko masalah neurologis; cedera serebrovaskuler, parkinsonisme
b)      Konduksi serabut saraf melintasi sinaps makin lambat
c)      Penurunan ingatan jangka-pendek derajad sedang
d)     Gangguan pola gaya berjalan; kaki dilebarkan, langkah pendek, dan menekukke depan
e)      Peningkatan risiko hemoragi sebelum muncul gejala

3.        Sistem Pendengaran.
Tanda :
a)      Hilangnya neuron auditorius
b)      Kehilangan pendengaran dari frekuensi tinggi ke frekuensi rendah
c)      Peningkatan serumen
d)     Angiosklerosis telinga
Gejala
a)      Penurunan ketajaman pendengaran dan isolasi social (khususnya, penurunan kemampuan untuk mendengar konsonan)
b)      Sulit mendengar, khususnya bila ada suara latar belakang yang mengganggu, atau bila percakapan cepat.
c)      Impaksi serumen dapat menyebabkan kehilangan pendengaran

4.        Sistem Penglihatan
Tanda :
a)      Penurunan fungsi sel batang dan sel kerucut
b)      Penumpukan pigmen.
c)      Penurunan kecepatan gerakan mata.
d)     Atrofi otot silier.
e)      Peningkatan ukuran lensa dan penguningan lensa
f)       Penurunan sekresi air mata. 
Gejala :
a)      Penurunan ketajaman penglihatan,lapang penglihatan, dan adaptasi terhadap terang/gelap
b)      Peningkatan kepekaan terhadap cahaya yang menyilaukan
c)      Peningkatan insiden glaucoma
d)     Gangguan persepsi kedalaman dengan peningkatan kejadian jatuh
e)      Kurang dapat membedakan warna biru, hijau,dan violet
f)       Peningkatan kekeringandan iritasi mata.

5.        Sistem Kardiovaskuler
Tanda :
a) Atrofi serat otot yang melapisi endocardium
b) Aterosklerosis pembuluh darah
c) Peningkatan tekanan darah sistolik.
d)Penurunan komplian ventrikel kiri.
e) Penurunan jumlah sel pacemaker
f)  Penurunan kepekaan terhadap baroreseptor.
Gejala:
a)      Peningkatan tekanan darah
b)      Peningkatan penekanan pada kontraksi atrium dengan S4 terdengar
c)      Peningkatan aritmia
d)     Peningkatan resiko hipotensi pada perubahan posisi
e)      Menuver valsava dapat menyebabkan penurunan tekanan darah
f)       Penurunan toleransi

6.        Sistem Respirasi
Tanda:
a)      Penurunan elastisitas jaringan paru.
b)      Kalsifikasi dinding dada.
c)      Atrofi silia.
d)     Penurunan kekuatan otot pernafasan.
e)      Penurunan tekanan parsial oksigen arteri (PaO2).
Gejala:
a)      Penurunan efisiensi pertukaran ventilasi
b)      Peningkatan kerentanan terhadap infeksi dan atelektasis
c)      Peningkatan resiko aspirasi
d)     Penurunan respons ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapnia
e)      Peningkatan kepekaan terhadap narkotik

8.    Sistem Gastrointestinal
          Tanda:
a)      Penurunan ukuran hati.
b)      Penurunan tonus otot pada usus.
c)      Pengosongan esophagus makin lambat
d)     Penurunan sekresi asam lambung.
e)      Atrofi lapisan mukosa
Gejala:
a)      Perubahan asupan akibat penurunan nafsu makan
b)      Ketidaknyamanan setelah makan karena jalannya makanan melambat
c)      Penurunan penyerapan kalsium dan besi
d)     Peningkatan resiko konstipasi, spasme esophagus, dan penyakit divertikuler

9.        Sistem Reproduksi
Tanda:
a)      Atrofi dan fibrosis dinding serviks dan uterus
b)      Penurunan elastisitas vagina dan lubrikasi
c)      Penurunan hormone dan oosit.
d)     Involusi jaringan kelenjar mamae.
e)      Poliferasi jaringan stroma dan glandular
Gejala :
a)      kekeringan vagina dan rasa terbakar dan nyeri saat koitus
b)      penurunan volume cairan semina dan kekuatan ejakulasi
c)      penurunan elevasi testis
d)     hipertrofi prostat
e)      jaringan ikat payudara digantikan dengan jaringan lemak, sehingga pemeriksaan payudara lebih mudah dilakukan

10.     Sistem Perkemihan
          Tanda:
a)      Penurunan masa ginjal
b)      Tidak ada glomerulus
c)      Penurunan jumlah nefron yang berfungsi
d)     Perubahan dinding pembuluh darah kecil
e)      Penurunan tonus otot kandung kemih
Gejala:
a)      Penurunan GFR
b)      Penurunan kemampuan penghematan natrium
c)      Peningkatan BUN
d)     Penurunan aliran darah ginjal
e)      Penurunan kapasitas kandung kemih dan peningkatan urin residual
f)       Peningkatan urgensi

10.                        Sistem Endokrin
Tanda:
a)      Penurunan testosterone, hormone pertumbuhan, insulin, androgen, aldosteron, hormone tiroid
b)      Penurunan termoregulasi
c)      Penurunan respons demam
d)     Peningkatan nodularitas dan fibrosis pada tiroid
e)      Penurunan laju metabolic basal
Gejala:
a)      Penurunan kemampuan untuk menoleransi stressor seperti pembedahan
b)      Penurunan berkeringat dan menggigil dan pengaturan suhu
c)      Penurunan respons insulin, toleransi glukosa
d)     Penurunan kepekaan tubulus ginjal terhadap hormone antidiuretic
e)      Penambahan berat badan
f)       Peningkatan insiden penyakit tiroid

11.    Sistem Kulit Integumen
       Tanda:
a)      Hilangnya ketebalan dermis dan epidermis
b)      Pendataran papilla
c)      Atrofi kelenjar keringat
d)     Penurunan vaskularisasi
e)      Cross-link kolagen
f)       Tidak adanya lemak sub kutan
g)      Penurunan melanosit
h)      Penurunan poliferasi dan fibroblas
Gejala:
a)      Penipisan kulit dan rentan sekali robek
b)      Kekeringan dan pruritus
c)      Penurunan keringat dan kemampuan mengatur panas tubuh
d)     Peningkatan kerutan dan kelemahan kulit
e)      Tidak adanya bantalan lemak yang melindungi tulang dan menyebabkan timbulnya nyeri
f)       Penyembuhan luka makin lama

12.    Sistem Muskuloskletal
Tanda:  
a)      Penurunan massa otot
b)      Penurunan aktivitas myosin adenosine tripospat
c)      Perburukan dan kekeringan pada kartilago sendi
d)     Penurunan massa tulang dan aktivitas osteoblast
Gejala:
a)      Penurunan kekuatan otot
b)      Penurunan densitas tulang
c)      Penurunan tinggi badan
d)     Nyeri dan kekakuan pada sendi
e)      Peningkatan risiko fraktur
f)       Perubahan cara berjalan dan postur

4.      TEORI PROSES MENUA
A.    Teori proses menua menurut Potter dan Perry (2005) yaitu sebagai berikut :
Ø Teori Biologis
1.      Teori radikal bebas
Radikal bebas merupakan contoh produk sampah metabolisme yang dapat menyebabkan kerusakan apabila terjadi akumulasi. Normalnya radikal bebas akan  dihancurkan oleh enzim pelindung, namun beberapa berhasil lolos dan berakumulasi di dalam organ tubuh. Radikal bebas yang terdapat di lingkungan seperti kendaraan bermotor, radiasi, sinar ultraviolet, mengakibatkan perubahan pigmen dan kolagen pada proses penuaan. Radikal bebas tidak mengandung DNA.Oleh karena itu, radikal bebas dapat menyebabkan gangguan genetik dan menghasilkan produk-produk limbah yang menumpuk di dalam inti dan sitoplasma. Ketika radikal bebas menyerang molekul, akan terjadi kerusakan membran sel; penuaan diperkirakan karena kerusakan sel akumulatif yang pada akhirnya mengganggu fungsi. Dukungan untuk teori radikal bebas ditemukan dalam lipofusin, bahan limbah berpigmen yang kaya lemak dan protein.Peran lipofusin pada penuaan mungkin kemampuannya untuk mengganggu transportasi sel dan replikasi DNA.Lipofusin, yang menyebabkan bintik-bintik penuaan, adalah dengan produk oksidasi dan oleh karena itu tampaknya terkait dengan radikal bebas.
2.      Teori cross-link
Teori cross-link dan jaringan ikat menyatakan bahwa molekul kolagen dan elastin, komponen jaringan ikat, membentuk senyawa yang lama meningkatkan regiditas sel, cross-linkage diperkirakan akibat reaksi kimia yang menimbulkan senyawa antara melokul-melokul yang normalnya terpisah (Ebersole & Hess, 1994 dalam Potter & Perry, 2005).
3.      Teori imunologis
Teori imunitas berhubungan langsung dengan proses penuaan. Selama proses penuaan, sistem imun juga akan mengalami kemunduran dalam pertahanan terhadap organisme asing yang masuk ke dalam tubuh sehingga pada lamsia akan sangat mudah mengalami infeksi dan kanker.perubahan sistem imun ini diakibatkan perubahan pada jaringan limfoid sehingga tidak adanya keseimbangan dalam sel T intuk memproduksi antibodi dan kekebalan tubuh menurun. Pada sistem imun akan terbentuk autoimun tubuh. Perubahan yang terjadi merupakan pengalihan integritas sistem tubuh untuk melawan sistem imun itu sendiri.

Ø  Teori Psikososial
1.      Teori Disengagement (Penarikan Diri)
Teori ini menggambarkan penarikan diri oleh lansia dari peran masyarakat dan tanggung jawabnya. Lansia akan dikatakan bahagia apabila kontak sosial telah berkurang dan tanggungjawab telah diambil oleh generasi yang lebih muda. Manfaat dari pengurangan kontak sosial bagi lansia adalah agar dapat menyediakan eaktu untuk mengrefleksi kembali pencapaian yang telah dialami dan untuk menghadapi harapan yang belum dicapai.
2.      Teori Aktivitas
Teori ini berpendapat apabila seorang lansia menuju penuaan yang sukses maka ia harus tetap beraktivitas.kesempatan untuk turut berperan dengan cara yang penuh arti bagi kehidupan seseorang yang penting bagi dirinya adalah suatu komponen kesejahteraan yang penting bagi lansia. Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya fungsi peran lansia secara negatif mempengaruhi kepuasan hidup, dan aktivitas mental serta fisik yang berkesinambungan akan memelihara kesehatan sepanjang kehidupan.
3.      Teori Kontinuitas
Teori kontinuitas mencoba menjelaskan mengenai kemungkinan kelanjutan dari perilaku yang sering dilakukan klien pada usia dewasa. Perilaku hidup yang membahayakan kesehatan dapat berlangsung hingga usia lanjut dan akan semakin menurunkan kualitas hidup.

B.     Tugas Perkembangan Lansia
Menurut Patricia Gonce Morton dkk, 2011 tugas perkembangan keluarg yaitu:
a)      Memutuskan dimana dan bagaimana akan menjalani hidup selama sisa umurnya.
b)      Memelihara hubungan yang suportif, intim dan memuaskan dengan pasangan hidupnya, keluarga, dan teman.
c)      Memelihara lingkungan rumah yang adekuat dan memuaskan terkait dengan status kesehatan dan ekonomi
d)     Menyiapkan pendapatan yang memadai
e)      Memelihara tingkat kesehatan yang maksimal
f)       Mendapatkan perawatan kesehatan dan gigi yang komprehensif
g)      Memelihara kebersihan diri
h)      Menjaga komunikasi dan kontak yang adekuat dengan keluarga dan teman
i)        Memelihara keterlibatan social, sipil dan politisi
j)        Memulai hobi baru (selain kegiatan sebelumnya) yang meningkatkan status
k)      Mengakui dan merasakan bahwa ia dibutuhkan
l)        Menemukan arti hidup setelah pension dan saat menghadapi penyakit diri dan pasangan hidup dan kematian pasangan hidup dan orang yang disayangi; menyesuaikan diri dengan orang yang disayangi
m)    Membangun filosofi hidup yang bermakna dan menemukan kenyamanan dalam filosofi atau agama.

C.       Batasan Lanjut Usia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHOdalam Psychologymania, 2013  batasan lanjut usia meliputi :
1.      Usia pertengahan (middle age) adalah kolompok usia 45-59 tahun.
2.      Lanjut usia (elderly) antara usia 60-74 tahun.
3.      Lanjut usia tua (old) antara 75-90 tahun.
4.      Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun

D.    Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Lanjut Usia. 
1.      Perubahan-perubahan Fisik
a)      Sel.
1.      Lebih sedikit jumlahnya.
2.      . Lebih besar ukurannya.
3.      Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler.
4.       Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.
5.      Jumlah sel otak menurun.
6.      Terganggunya mekanisme perbaikan sel. 
7.      Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.

2.       Sistem Persarafan.
a)      Berat otak menurun 10-20%. (Setiap orang berkurang sel saraf otaknya dalam setiap harinya).
b)      Cepatnya menurun hubungan persarafan.
c)       Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
d)     Mengecilnya saraf panca indra.Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya saraf penciumdan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
e)      Kurang sensitif terhadap sentuhan.


3.       Sistem Pendengaran.
a)      Presbiakusis ( gangguan dalam pendengaran ). Hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
b)       Otosklerosis akibat atrofi membran tympani .
c)       Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin.
d)      Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stres.

4.       Sistem Penglihatan.
a)      Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
b)      Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
c)       Kekeruhan pada lensa menyebabkan katarak.
d)     Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap.
e)      Hilangnya daya akomodasi.
f)       Menurunnya lapangan pandang, berkurang luas pandangannya.
g)       Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau.

5.      Sistem Kardiovaskuler.
a)      Elastisitas dinding aorta menurun.
b)       Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
c)       Kemampuan jantung memompa darah menurun, hal ini menyebabakan menurunnya kontraksi dan volumenya.
d)     Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenisasi,. Perubahan posisi dari tidur ke duduk atau dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan tekanan darah menurun, mengakibatkan pusing mendadak.
e)      Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.

6.      Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh.
a)      Temperatur tubuh menurun ( hipotermia ) secara fisiologis akibat metabolisme yang menurun.
b)       Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas akibatnya aktivitas otot menurun

7.       Sistem Respirasi
a)      Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
b)       Menurunnya aktivitas dari silia.
c)       Paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun.
d)     Alveoli ukuranya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.
e)      Kemampuan untuk batuk berkurang.
f)       Kemampuan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan pertambahan usia.

8.      Sistem Gastrointestinal.
a)      Kehilangan gigi akibat Periodontal disease, kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
b)      Indera pengecap menurun, hilangnya sensitivitas saraf pengecapm di lidah terhadap rasa manis, asin, asam, dan pahit.Eosephagus melebar.
a)      Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
b)      Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
c)      Daya absorbsi melemah..


9.       Sistem Reproduksi.
a)      Menciutnya ovari dan uterus.
b)       Atrofi payudara.
c)      Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur.
d)      Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia asal kondisi kesehatan baik
e)       Selaput lendir vagina menurun.

10.  Sistem Perkemihan.
a)      Ginjal
Merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh melalui urin, darah yang masuk ke ginjal disaring di glomerulus (nefron).Nefron menjadi atrofi dan aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%.
b)      Otot-otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air kecil meningkat dan terkadang menyebabkan retensi urin pada pria.

11.   Sistem Endokrin.
a)      Produksi semua hormon menurun.
b)      Menurunnya aktivitas tyroid, menurunnya BMR (Basal Metabolic Rate), dan menurunnya daya pertukaran zat.
c)      Menurunnya produksi aldosteron.
d)     Menurunya sekresi hormon kelamin misalnya, progesteron, estrogen, dan testosteron.

12.  Sistem Kulit ( Sistem Integumen )
a)      Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
b)       Permukaan kulit kasar dan bersisik karena kehilangan proses keratinisasi, serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis.
c)       Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.
d)     Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
e)      Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunya cairan dan vaskularisasi.
f)       Pertumbuhan kuku lebih lambat.
g)      Kuku jari menjadi keras dan rapuh, pudar dan kurang bercahaya.
h)      Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.

13.  Sistem Muskuloskletal
a)      Tulang kehilangan density ( cairan ) dan makin rapuh.
b)      Kifosis
c)      Pergerakan pinggang, lutut, dan jari-jari terbatas.
d)     Persendiaan membesar dan menjadi kaku.
e)      Tendon mengerut dan mengalami skelerosis.
f)       Atrofi serabut otot ( otot-otot serabut mengecil ).Otot-otot serabut mengecil sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otot-otot kram dan menjadi tremor.
g)       Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh.

2.      Perubahan-perubahan Mental.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental.
a.     Perubahan fisik, khususnya organ perasa.
b.     Kesehatan umum
c.     Tingkat pendidikan
d.    Keturunan (Hereditas)
e.     Lingkungan
f.      Kenangan (Memory).
1.      Kenangan jangka panjang: Berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu mencakup beberapa perubahan.
2.       Kenangan jangka pendek atau seketika: 0-10 menit, kenangan buruk.
g.     IQ (Inteligentia Quantion).
1.      Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal.
2.      Berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan psikomotor, terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan-tekanan dari faktor waktu.

E.     Perubahan-perubahan Psikososial.
a.      Pensiun: nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan identitas dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila seseorang pensiun (purna tugas), ia akan mengalami kehilangan-kehilangan, antara lain :
1.       Kehilangan finansial (income berkurang).
2.      Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi, lengkap dengan segala fasilitasnya).
3.       Kehilangan teman/kenalan atau relasi.
4.      Kehilangan pekerjaan/kegiatan.
5.      Merasakan atau sadar akan kematian (sense of awareness of mortality)
6.      Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak lebih sempit.
7.      Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economic deprivation).
8.      Meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya biaya pengobatan.
9.       Penyakit kronis dan ketidakmampuan.
10.   Gangguan saraf pancaindra, timbul kebutaan dan ketulian.
11.  Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan.
12.  Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman-teman dan family.
13.  Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik: perubahan terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri

F.       Perkembangan Spritual.
a.        Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupan (Maslow,1970)
b.      Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya, hal ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner,1970).
c.       Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Folwer (1978), Universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai keadilan.
Masalah Umum yang Unik Bagi Lanjut Usia.
1.      Keadaan fisik lemah dan tak berdaya, sehingga harus tergantung pada orang lain.
2.      Status ekonominya sangat terancam, sehingga cukup beralasan untuk melakukan berbagai perubahan besar dalam pola hidupnya.
3.      Menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status ekonomi dan kondisi fisik
4.      Mencari teman baru untuk menggantikan suami atau isteri yang telah meninggal atau pergi jauh atau cacat
5.       Mengembangkan kegiatan baru untuk mengisi waktu luang yang semakin bertambah
6.       Belajar untuk memperlakukan anak yang sudah besar sebagai orang dewasa
7.      Mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat yang secara khusus direncanakan untuk orang dewasa
8.      Mulai merasakan kebahagiaan dari kegiatan yang sesuai untuk orang berusia lanjut dan memiliki kemauan untuk mengganti kegiatan yang lebih cocok
9.      Menjadi korban atau dimanfaatkan oleh para penjual obat dan kriminalitas karena mereka tidak sanggup lagi untuk mempertahankan diri












5.      PATHWAY PROSES MENUA
 









Text Box: Polusi udara, diet yang tak sehat dan stres                            
Text Box: Perub.psikososial
Text Box: Kehilangan income dan kehilangan status
Text Box: fungsi intelektual
Text Box: Dimensia
 






                                                                             
 







6.      PEMERIKSAAN FISIK
1.      Perawat mengkaji perubahan pada perkembanga fisiologis, kognitif dan perilaku sosial pada lansia
a)      Perubahan fisiologis
b)      Perubahan fisik penuaan normal yang perlu dikaji :
Sistem
Temuan Normal
Integumen
Warna kulit
Pigmentasi berbintik/bernoda diarea yang terpajan sinar matahari, pucat meskipun tidak anemia

Kelembaban
Kering, kondisi bersisik

Suhu
Ekstremitas lebih dingin, penurunan perspirasi

Tekstur
Penurunan elastisitas, kerutan, kondisi berlipat, kendur
Distribusi lemak

Penurunan jumlah lemak pada ekstremitas, peningkatan jumlah diabdomen
Rambut

Penipisan rambut
Kuku

Penurunan  laju pertumbuhan
Kepala dan leher
Kepala
Tulang nasal, wajah menajam, & angular

Mata
Penurunan ketajaman penglihatan, akomodasi, adaptasi dalam gelap, sensivitas terhadpa cahaya

Telinga
Penurunan menbedakan nada, berkurangnya reflek ringan, pendengaran kurang

Mulut, faring
Penurunan pengecapan, aropi papilla ujung lateral lidah

Leher
Kelenjar tiroid nodular
Thoraxs & paru-paru

Peningkatan diameter antero-posterior, peningkatan rigitas dada, peningkatan RR dengan penurunan ekspansi paru, peningkatan resistensi jalan nafas
Sist jantung & vascular

Peningkatan sistolik, perubahan DJJ saat istirahat, nadi perifer mudah dipalpasi, ekstremitas bawah dingin
Payudara

Berkurangnnya jaringan payudara, kondisi menggantung dan mengendur
Sist pencernaan

Penurunan sekresi keljar saliva, peristatik, enzim digestif, konstppasi
Sist reproduksi
Wanita
Penurunan estrogen, ukuran uterus, atropi vagina

Pria
Penurunan testosteron, jumlah sperma, testis
Sist perkemihan

Penurunan filtrasi renal, nokturia, penurunan kapasitas kandung kemih, inkontenensia

Wanita
Inkontenensia urgensi & stress, penurunan tonus otot perineal

Pria
Sering berkemih & retensi urine.
Sist. muskoloskeletal

Penurunan masa & kekuatan otot, demineralisasi tulang, pemendekan fosa karena penyempitan rongga intravertebral, penurunan mobilitas sendi, rentang gerak
Sist neorologi

Penurunan laju reflek, penurunan kemampuan berespon terhadap stimulus ganda, insomia, periode tidur singkat

2.      Pengkajian status fungsional :
Pengkajian status fungsional adalah suatu pengukuran kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari – hari secara mandiri.Indeks Katz adalah alat yang secara luas digunakan untuk menentukan hasil tindakan dan prognosis pada lansia dan penyakit kronis.Format ini menggambarkan tingkat fungsional klien dan mengukur efek tindakan yang diharapkan untuk memperbaiki fungsi. Indeks ini merentang kekuatan pelaksanaan dalam 6 fungsi : mandi, berpakaian, toileting, berpindah, kontinen dan makan.
3.      Tingkat Kemandirian Lansia :
a)      kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar mandi, berpakaian dan mandi
b)      kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari, kecuali satu dari fungsi tambahan
c)      kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari, kecuali mandi dan satu fungsi tambahan
d)     kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari, kecuali mandi, berpakaian dan satu fungsi tambahan
e)      kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari, kecuali mandi, berpakaian, ke kamar kecil dan satu fungsi tambahan
f)       kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari, kecuali mandi, berpakaian, ke kamar kecil
g)      Ketergantungan pada keenam fungsi tersebut

4.      Perubahan Kognitif
Kebanyakan trauma psikologis dan emosi pada masa lanisa muncul akibat kesalahan konsep karena lansia mengalami kerusakan kognitif. Akan tetapi perubahan struktur dan fisiologi yang terjadi pada otak selama penuaan tidak mempengaruhi kemampuan adaptif & fungsi secara nyata (ebersole &hess, 1994)
a)      Pengkajian status kognitif
b)      SPMSQ (short portable mental status quetionnaire)
Digunakan untuk mendeteksi adanya dan tingkat kerusakan intelektual terdiri dari 10 hal yang menilai orientasi, memori dalam hubungan dengan kemampuan perawatan diri, memori jauh dan kemam[uan matematis.
c)      MMSE (mini mental state exam)
Menguji aspek kognitif dari fungsi mental, orientasi, registrasi,perhatian dank kalkulasi, mengingat kembali dan bahasa. Nilai kemungkinan paliong tinggi adalaha 30, dengan nialu 21 atau kurang biasanya indikasi adanya kerusakan kognitif yang memerlukan penyelidikan leboh lanjut.
d)     Inventaris Depresi Bec
Berisi 13 hal yang menggambarkan berbagai gejal dan sikap yang behubungan dengan depresi. Setiap hal direntang dengan menggunakan skala 4 poin untuk menandakan intensitas gejala

5.      Perubahan psikososial
Lansia harus beradaptasi pada perubahan psikososial yang terjadi pada penuaan.Meskipun perubahan tersebut bervariasi, tetapi beberapa perubahan biasa terjadi pada mayoritas lansia.

6.      Pengkajian Sosial
Hubungan lansia dengan keluarga memerankan peran sentral pada seluruh tingkatkesehatan dan kesejahteraan lansia.Alat skrining singkat yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi social lansia adalah APGAR Keluarga.Instrument disesuaikan untuk digunakan pada klien yang mempunyai hubungan social lebih intim dengan teman-temannya atau dengan keluarga.Nilai < 3 menandakan disfungsi keluarga sangat tinggi, nilai 4 – 6 disfungsi keluarga sedang.
A : Adaptation
P : Partnership
G :Growth
A :Affection
R : Resolve

7.      Keamanan Rumah
Perawat wajib mengobservasi lingkungan rumah lansia untuk menjamin tidak adanya bahaya yang akan menempatkan  lansia pada resiko cidera. Faktor lingkungan yang harus diperhatikan  :
a.      Penerangan adekuat di tangga, jalan masuk & pada malam hari
b.      Jalan bersih
c.       Pengaturan dapur dan kamar mandi tepat
d.      Alas kaki stabil dan anti slip
e.      Kain anti licin atau keset
f.        Pegangan kokoh pada tangga / kamar mandi


7.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
       Menurut Stanley dan Patricia, 2011 Pemeriksaan laboatorium rutin yang perlu diperiksa pada pasien lansia untuk mendeteki dini gangguan kesehatan yang sering dijumpai pada pasien lansia yang belum diketahui adanya gangguan / penyakit tertentu (penyakit degeneratif) yaitu :
a.  Pemerikasaan hematologi rutin
b.  Urin rutin
c.  Glukosa
d.  Profil lipid
e.  Alkalin pospat
f.   Fungsi hati
g.  Fungsi ginjal
h.  Fungsi tiroid
i.    Pemeriksaan feses rutin

8.      PENATALAKSANAAN
a.       Peran perawat pada klien sesuai dengan proses penuaan
Proses Perawatan Kesehatan bagi para Lansia merupakan tugas yang membutuhkan suatu kondisi yang bersifat komprehnsif sehingga diperlukan suatu upaya penciptaan suatu keterpaduan antara berbagai proses yang dapat terjadi pada lansia. Untuk mencapai tujuan yang lebih maksimal, konsep dan strategi pelayanan kesehatan bagi para lansia memegang peranan yang sangat penting dalam hal ini tidak lepas dari peran perawat sebagai unsur pelaksana.
Dalam proses tersebut, peran perawat yang dapat dikembangkan untuk merawat lansia, berdasarkan proses penuaan yang terjadi, yaitu
1)      Peran Perawat dalam menghadapi Perubahan Biologik (Fisik).
Perawatan dengan perubahan fisik adalah perawatan yang memperhatikan kesehatan objektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialami oleh lansia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan, serta penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresivitasnya. Perawatan fisik ini tebagi menjadi dua bagian, yaitu :
a.       Perawatan bagi usila yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga kebutuhannya sehari-hari bisa dipenuhi sendiri.
b.      Perawatan bagi usila yang pasif atau tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau kesakitan sehingga memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan kebutuhannya sendiri. Disinilah peran perawat teroptimalkan, terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya, dan untuk itu perawat harus mengetahui dasar perawatan bagi pasien lansia.Peran perawat dalam membantu kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingat sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat  perhatian. Selain itu kemunduran kondisi fisik akibat proses ketuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan infeksi dari luar. Untuk para lansia yang masih aktif, peran perawat sebagai pembimbing mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan rambut dan kuku, kebersihan tempat tidur serta posisi tidir, hal makanan, cara mengkonsumsi obat, dan cara pindah dari kursi ke tempat tidur atau sebaliknya. Kegiatan yang dilakukan secara rutin akan sangat penting dipertahankan pada lansia dengan melihat. Kemampuan yang ada, karena adanya potensi kelemahan atropi otot dan penurunan fungsi.
2)      Peran Perawat dalam menghadapi Perubahan Sosial.
Dalam perannya ini, perawat perlu melakukan pendekatan sosial sebagai salat satu upayanya adalah memberikan kesempatan berkumpul dengan sesama usila. Mereka dapat bertukar cerita atau bertukar pikiran dan memberikan kebahagiaan karena masih ada orang lain yang mau bertukar pikiran serta menghidupkan semangat sosialisasi. Hasil kunjungan ini dapat dijadikan pegangan bahwa para lansia tersebut adalah makluk sosial juga, yang membutuhkan kehadiran orang lain.
3)      Peran Perawat dalam menghadapi Perubahan Psikologi.
Pada lansia, terutama yang melakukan kegiatan pribadi, memerlukan bantuan orang lain, memerlukan sebagai suporter, interprester terhadap segala sesuatu yang asing, penampung rahsia pribadi, dan sahabat yang akrab. Peran perawat disini melakukan suatu pendekatan psikis, dimana membutuhkan seorang perawat yang memiliki kesabaran, ketelitian dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai keluhan agar para usila merasa puas.Pada dasarnya pasien lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih lingkungannya, termasuk perawat sehingga perawat harus menciptakan suasana aman, tenang dan membiarkan klien lansia melakukan atau kegiatan lain yang disenangi sebatas kemampuannya.Peran perawat disini juga sebagai motivator atau membangkitkan kreasi pasien yang dirawatnya untuk mengurangi rasa putus asa, rendah diri, rasa terbatas akibat ketidak mampuannya. Hal ini perlu dilakukan karena bersamaan dengan makin lanjutnya usia, terjadi perubahan psikis yang antara lain menurunnya daya ingat akan peristiwa yang baru saja terjadi, perubahan pola tidur dengan kecenderungan untuk tiduran di siang hari dan pengeseran libido.Mengubah tingkah laku dan pandangan terhadap kesehatan lansia tidak dapat dilakukan seketika. Seorang perawat harus melakukannya secara perlahan-lahan dan bertahap serta mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang dilalui tidak menambah beban tetapi justru tetap memberikan rasa puas dan bahagia.





















9.      Analisa Data

No
Data
Etiologi
Masalah
1
DS:
klien mengatakan nyeri
Pada kedua kakinya mulai dari lipatan kaki sampai tumit.
P: klien mengatakan nyeri
Q: Nyeri seperti di tusuk-tusuk
R: Pada kedua lipatan kaki    sampai dengan tumit
S: Skalanyerisedang (3)
 (1-5)
T:Nyeri hilang timbul dengan durasi ± 5menit

DO:
1.  Pada saat pengkajian tampak wajah klien menahan sakit & meringis
2.  Tampak memegangi daerah yang sakit
3.  Vital Sign:
TD: 130/70 mmHg
RR: 21x/m
HR: 80x/m
T: 36,2 0C

Agen Injury
(Biologis)
NyeriKronis
2
DS:
Klien mengatakan susah untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti yang kebanyakan orang normal lakukan, dikarenakan kondisi yang sekarang tidak mampu lagi untuk berjalan.
DO:
1.      Klien tampak lemah
2.       ADL sebagian dibantu (oleh orang/perawat)
3.      Pergerakan terbatas
4.      Kekuatan skala otot:
3
3
2
2
Penurunan Kekuatan Otot
Hambatan MobilitasFisik
3
DS:
Pasienmengatakantidakbiasa tidurkarenanyeri yang dirasakanmunculdanmenggangutidurnya.
DO:
1.      Klientampaklemas
2.      Klientampaklesudantidakbersemangat
3.      Klientampakberbaringsajadiatastempattidur

Ansietas
GangguanPolaTidur

10.  Diagnosa Keperawatan (Berdasarkan Prioritas Masalah)
a.       Nyeri Kronis berhubungan dengan Agen Injury (Biologis).
b.      Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan Penurunan Kekuatan Otot.
c.       GannguanPolaTidurberhubungandenganAnsietas


L.Nursing Care Planing( Ncp )
No
Dx
Keperawatan
NOC
(Nursing Outcome)
NIC
(Nursing Intervention Classification )
1.
NyeriKronisberhubungandengan
Agen Injury (Biologis)
Setelahdilakukantindakankeperawatanselama 1x24 jam diharapkanNyeriKronispasien
Dapatteratasi.
KriteriaHasil :
Indikator
IR
ER
1.    Melaporkanadanyanyeri.
2.    Luasbagiantubuh yang terpengaruhi.
3.    Frekuensinyeri.
4.    Pernyataannyeri.
5.    Perubahantekanandarah.
6.    Posisitubuhprotektif.
3

3

3
3
3

3
4

4

4
4
4

4
Keterangan:                     
1.   Kuat
2.   Berat
3.   Sedang
4.   Ringan
5.   Tidakada


PAIN MANAGEMENT:
1.    LakukanpengkajiannyerisecarakomprehensiftermasukLokasi, Karakteristik, Durasi, Frekuensi, Kualitas, danFaktorPresipitasi.
2.    Observasireaksinon verbaldariketidaknyamanan.
3.    Gunakanteknikkomunikasiterapeutikuntukmengetahuipengalamannyeripasien.
4.    Ajarkantentangteknik non farmakologi (teknikrelaksasi:nafasdalam)

2.
HambatanMobilitasFisik
Berhubungandengan
PenurunanKekuatanOtot
Setelahdilakukantindakankeperawatan selama1x 24 jam hambatanmobiltasfisik
Dapatteratasi.
KriteriaHasil :
Indikator
IR
ER
1.    Pasienmeningkatdalamaktivitas.
2.    Mengertitujuandaripenigkatanmobilitas.
3.    Memverbalisasikanperasaandalammeningkatkankekuatandankemampuaberpindah.
4.    Memperagakanpenggunaanalatbantuuntukmobilisasi.
3

3


3





3



4

4


4





4



Keterangan:
1.   Keluhanekstrem
2.   Keluhanberat
3.   Keluhansedang
4.   Keluhanringan
5.   Tidakadakeluhan

EXERCISE THERAPY:
1.    Memonitoring vital sign sebelum/sesudahlatihandanlihatresponpasiensaatlatihan.
2.    Kajikemampuanpasiendalammobilisasi.
3.    Latihpasiendalampemenuhankebutuhan ADL (Activity Daily Living)secaramandiri.
4.    Dampingidanbantupasiensaatmobilisasidan bantu penuhikebutuhan ADL (Activity Daily Living)pasien.
3.
Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan Ansietas
Setelahdilakukantindakankeperawatanselama 1x24 jam diharapkankebutuhantidurklientercukupi.

KriteriaHasil :
Indikator
IR
ER
1.     Polatidur
2.     Kualitastidur
3.     Efesiensitidur
4.     Tidurhanyasebentar
5.     TTV dalamrentang normal
3
3
3
3

3
4
4
4
4

4
Keterangan:
1.   Keluahanekstrim
2.   Keluhanberat
3.   Keluhansedang
4.   Keluhanringan
5.   Tidakadakeluhan
1.    Pantau pola tidur pasien dan catat hubungan faktor-faktor fisik (misalnya apnea saattidur, sumbatan jalan nafas, nyeri atau ketidaknyamanan,dan sering berkemih) atau faktor-faktor psikologis yang dapat membantu pola tidur pasien.
2.    Jelaskan pola tidur yang adekuat selama sakit.
3.    Ajarkanpasiendan orang laintentang factor-faktoryangdapatberpengaruhpadagangguanpolatidur.
4.    Bantu pasienuntukmengidentifikasifaktor-faktor yang mungkinmenyebabkankurangtidur.
5.    Anjurkanuntuktidursiangjikadiperlukanuntukmemenuhikebutuhanpolatidur.



































DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa  Keperawatan  Edisi 6. Jakarta: EGC
Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.Jakarta: EGC
Hadiwinoyo, S.T. 1999.Panduan Gerontologi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Nugroho, W. 2000.Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta: EGC

Patricia gonce morton et.al. (2011). Keperawatan kritis: pendekatan asuhan holistic ed.8; alih bahasa, nike esty wahyuningsih. Jakarta: egc

potter dan perry. (2005). Fundamental keperawatan: konsep, proses dan praktik. Jakarta: egc.

Psychologymania.(2012). Pengertian-lansia-lanjut-usia. Diakses pada hari senin, 01 april, 2013.

stanley, mickey dan patricia gauntlett beare. (2006). Buku ajar keperawatan gerontik. Jakarta: egc.

Wilkinson, judith. (2011). Buku saku diagnosa keperawatan: diagnose nanda, intervensi nic, kriteria hasil noc, ed.9. Alih bahasa, esty wahyuningsih; editor edisi bahasa indonesia, dwi widiarti. Jakarta: egc.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar