LAPORAN PENDAHULUAN ASMA
1.
DEFINISI
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas yang
mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila terangsang
oleh factor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan aliran udara
terhambat karena konstriksi bronkus, sumbatan mukus, dan meningkatnya
proses radang (Almazini, 2012)
Asma adalah suatu keadaan
di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap
rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan, penyempitan ini bersifat
sementara. Asma dapat terjadi pada siapa saja dan dapat timbul disegala usia,
tetapi umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun
dan orang dewasa pada usia sekitar 30 tahunan (Saheb, 2011)
Asma adalah gangguan
inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya.Inflamasi
kronik menyebabkan peningkatan hiperresponsivitas saluran napas yang
menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa
berat, batuk terutama malam hari dan atau dini hari. Episodik tersebut
berhubungan dengan obstruksi saluran napas yang luas, bervariasi dan seringkali
bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan (Boushey, 2005; Bousquet,
2008)
Istilah asma berasal dari
kata Yunani yang artinya “terengah-engah” dan berarti serangan nafas pendek
(Price, 1995 cit Purnomo 2008). Nelson (1996) dalam Purnomo
(2008) mendefinisikan asma sebagai kumpulan tanda dan gejala wheezing (mengi)
dan atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut; timbul secara episodik dan
atau kronik, cenderung pada malam hari/dini hari (nocturnal), musiman,
adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik dan bersifat reversibel baik
secara spontan maupun dengan penyumbatan, serta adanya riwayat asma atau atopi
lain pada pasien/keluarga, sedangkan sebab-sebab lain sudah disingkirkan
Batasan asma yang lengkap
yang dikeluarkan oleh Global Initiative for Asthma (GINA)
(2006) didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan
banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada
orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan mengi berulang, sesak nafas, rasa
dada tertekan dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini
biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan nafas yang luas namun bervariasi,
yang sebagian bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan,
inflamasi ini juga berhubungan dengan hiperreaktivitas jalan nafas terhadap
berbagai rangsangan.
Asma adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
keadaan saluran nafas yang sangat peka terhadap berbagai rangsangan, baik dari
dalam maupun luar tubuh. Akibat dari kepekaan yang berlebihan ini terjadilah
penyempitan saluran nafas secara menyeluruh(Abidin, 2002).
2.
ETIOLOGI
Sampai saat ini etiologi dari Asma Bronkhial belum
diketahui.Suatu hal yang yang menonjol pada penderita Asma adalah fenomena
hiperaktivitas bronkus.Bronkus penderita asma sangat peka terhadap rangsangan
imunologi maupun non imunologi.
a.
Adapun rangsangan atau faktor pencetus yang sering menimbulkan Asma adalah:
(Smeltzer & Bare, 2002).
1.
Faktor ekstrinsik (alergik) : reaksi alergik yang disebabkan oleh alergen
atau alergen yang dikenal seperti debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang.
2.
Faktor intrinsik(non-alergik) : tidak berhubungan dengan alergen,
seperti common cold, infeksi traktus respiratorius, latihan,
emosi, dan polutan lingkungan dapat mencetuskan serangan.
b.
Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk
alergik dan non-alergikMenurut The Lung Association of Canada, ada dua faktor
yang menjadi pencetus asma :
a.
Pemicu Asma (Trigger)
Pemicu asma mengakibatkan mengencang atau
menyempitnya saluran pernapasan (bronkokonstriksi).Pemicu tidak menyebabkan
peradangan. Triggerdianggap menyebabkan gangguan pernapasan akut,
yang belum berarti asma, tetapi bisa menjurus menjadi asma jenis intrinsik.
Gejala-gejala dan bronkokonstriksi yang
diakibatkan oleh pemicu cenderung timbul seketika, berlangsung dalam waktu
pendek dan relatif mudah diatasi dalam waktu singkat. Namun, saluran pernapasan
akan bereaksi lebih cepat terhadap pemicu, apabila sudah ada, atau sudah
terjadi peradangan. Umumnya pemicu yang mengakibatkan bronkokonstriksi adalah
perubahan cuaca, suhu udara, polusi udara, asap rokok, infeksi saluran
pernapasan, gangguan emosi, dan olahraga yang berlebihan.
b.
Penyebab Asma (Inducer)
Penyebab asma dapat menyebabkan peradangan
(inflamasi) dan sekaligus hiperresponsivitas (respon yang berlebihan) dari
saluran pernapasan. Inducerdianggap sebagai penyebab asma yang
sesungguhnya atau asma jenis ekstrinsik.Penyebab asma dapat menimbulkan gejala-gejala
yang umumnya berlangsung lebih lama (kronis), dan lebih sulit diatasi. Umumnya
penyebab asma adalah alergen, yang tampil dalam bentuk ingestan
(alergen yang masuk ke tubuh melalui mulut), inhalan (alergen yang
dihirup masuk tubuh melalui hidung atau mulut), dan alergen yang didapat
melalui kontak dengan kulit (
VitaHealth, 2006).
c.
Sedangkan Lewis et al. (2000) tidak
membagi pencetus asma secara spesifik. Menurut mereka, secara umum pemicu asma
adalah:
ü Faktor predisposisi
Genetik : faktor yang diturunkan adalah
bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang
jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga
menderita penyakit alergi.Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat
mudah terkena penyakit Asma Bronkhial jika terpapar dengan
faktor pencetus.Selain itu hipersensitivitas saluran pernapasannya juga bisa
diturunkan.
ü Faktor presipitasi
·
Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3
jenis, yaitu:
§ Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan seperti debu, bulu binatang,
serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
§ Ingestan, yang masuk melalui mulut yaitu makanan (seperti buah-buahan dan
anggur yang mengandung sodium metabisulfide) dan obat-obatan (seperti aspirin,
epinefrin, ACE- inhibitor, kromolin).
§ Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Contoh : perhiasan, logam dan jam tangan
ü Pada beberapa orang yang menderita asma respon terhadap Ig E jelas
merupakan alergen utama yang berasal dari debu, serbuk tanaman atau bulu binatang.
Alergen ini menstimulasi reseptor Ig E pada sel mast sehingga pemaparan
terhadap faktor pencetus alergen ini dapat mengakibatkan degranulasi sel mast.
Degranulasi sel mast seperti histamin dan protease sehingga berakibat respon
alergen berupa asma.
d.
Olahraga
Sebagian besar penderita asma akan
mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat.
Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai
beraktifitas. Asma dapat diinduksi oleh adanya kegiatan fisik atau latihan yang
disebut sebagai Exercise Induced Asthma (EIA) yang biasanya
terjadi beberapa saat setelah latihan.misalnya: jogging, aerobik,
berjalan cepat, ataupun naik tangga dan dikarakteristikkan oleh adanya
bronkospasme, nafas pendek, batuk dan wheezing. Penderita asma seharusnya
melakukan pemanasan selama 2-3 menit sebelum latihan.
Infeksi bakteri pada saluran napas
e.
Infeksi bakteri pada saluran napas kecuali
sinusitis mengakibatkan eksaserbasi pada asma. Infeksi ini menyebabkan
perubahan inflamasi pada sistem trakeo bronkial dan mengubah mekanisme
mukosilia. Oleh karena itu terjadi peningkatan hiperresponsif pada sistem
bronkial.
f.
Stres
Stres / gangguan emosi dapat menjadi
pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah
ada.Penderita diberikan motivasi untuk mengatasi masalah pribadinya, karena
jika stresnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
g.
Gangguan pada sinus
Hampir 30% kasus asma disebabkan oleh
gangguan pada sinus, misalnya rhinitis alergik dan polip pada hidung.Kedua
gangguan ini menyebabkan inflamasi membran mukus.
h.
Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi
Asma.Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya
serangan Asma.Kadangkadang serangan berhubungan dengan musim, seperti
musimhujan, musim kemarau.
3.KLASIFIKASI ASMA
a.
Berdasarkan kegawatan asma, maka asma
dapat dibagi menjadi :
1.
Asma bronkhiale
Asthma Bronkiale merupakan suatu penyakit
yang ditandai dengan adanya respon yang berlebihan dari trakea dan bronkus
terhadap bebagai macam rangsangan, yang mengakibatkan penyempitan saluran nafas
yang tersebar luas diseluruh paru dan derajatnya dapat berubah secara sepontan
atau setelah mendapat pengobatan
2.
Status asmatikus
Yakni suatu asma yang refraktor terhadap
obat-obatan yang konvensional (Smeltzer, 2001).status asmatikus merupakan keadaan
emergensi dan tidak langsung memberikan respon terhadap dosis umum
bronkodilator (Depkes RI, 2007).
Status Asmatikus yang dialami penderita
asma dapat berupa pernapasan wheezing, ronchi ketika bernapas (adanya suara
bising ketika bernapas), kemudian bisa berlanjut menjadi pernapasan labored
(perpanjangan ekshalasi), pembesaran vena leher, hipoksemia, respirasi
alkalosis, respirasi sianosis, dyspnea dan kemudian berakhir dengan tachypnea.
Namun makin besarnya obstruksi di bronkus maka suara wheezing dapat hilang dan
biasanya menjadi pertanda bahaya gagal pernapasan (Brunner & Suddarth,
2001).
3.
Asthmatic Emergency
Yakni asma yang dapat menyebabkan kematian
b.
Klasifikasi asma yaitu (Hartantyo, 1997, cit Purnomo 2008)
1.
Asma ekstrinsik
Asma ekstrinsik adalah bentuk asma paling
umum yang disebabkan karena reaksi alergi penderita terhadap allergen dan tidak
membawa pengaruh apa-apa terhadap orang yang sehat.
2.
Asma intrinsik
Asma intrinsik adalah asma yang tidak
responsif terhadap pemicu yang berasal dari allergen.Asma ini disebabkan oleh
stres, infeksi dan kodisi lingkungan yang buruk seperti klembaban, suhu, polusi
udara dan aktivitas olahraga yang berlebihan.
3.
Menurut Global Initiative for
Asthma (GINA) (2006) penggolongan asma berdasarkan beratnya penyakit
dibagi 4 (empat) yaitu:
ü Asma Intermiten (asma jarang)
·
gejala kurang dari seminggu
·
serangan singkat
·
gejala pada malam hari < 2 kali dalam
sebulan
·
FEV 1 atau PEV > 80%
·
PEF atau FEV 1 variabilitas 20% – 30%
ü Asma mild persistent (asma persisten ringan)
·
gejala lebih dari sekali seminggu
·
serangan mengganggu aktivitas dan tidur
·
gejala pada malam hari > 2 kali sebulan
·
FEV 1 atau PEV > 80%
·
PEF atau FEV 1 variabilitas < 20% – 30%
ü Asma moderate persistent (asma persisten sedang)
·
gejala setiap hari
·
serangan mengganggu aktivitas dan tidur
·
gejala pada malam hari > 1 dalam
seminggu
·
FEV 1 tau PEV 60% – 80%
·
PEF atau FEV 1 variabilitas > 30%
ü Asma severe persistent (asma persisten berat)
·
gejala setiap hari
·
serangan terus menerus
·
gejala pada malam hari setiap hari
·
terjadi pembatasan aktivitas fisik
·
FEV 1 atau PEF = 60
c.
Selain berdasarkan gejala klinis di atas,
asma dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat serangan asma yaitu: (GINA,
2006)
1. Serangan asma ringan dengan aktivitas masih dapat berjalan, bicara satu
kalimat, bisa berbaring, tidak ada sianosis dan mengi kadang hanya pada akhir
ekspirasi,
2.
Serangan asma sedang dengan pengurangan
aktivitas, bicara memenggal kalimat, lebih suka duduk, tidak ada sianosis,
mengi nyaring sepanjang ekspirasi dan kadang -kadang terdengar pada saat
inspirasi,
3.
Serangan asma berat dengan aktivitas hanya
istirahat dengan posisi duduk bertopang lengan, bicara kata demi kata, mulai
ada sianosis dan mengi sangat nyaring terdengar tanpa stetoskop,
4.
Serangan asma dengan ancaman henti nafas,
tampak kebingunan, sudah tidak terdengar mengi dan timbul bradikardi.
5.
Perlu dibedakan derajat klinis asma harian
dan derajat serangan asma. Seorang penderita asma persisten (asma berat) dapat
mengalami serangan asma ringan. Sedangkan asma ringan dapat mengalami serangan
asma berat, bahkan serangan asma berat yang mengancam terjadi henti nafas yang
dapat menyebabkan kematian
4.
MANIFESTASI
KLINIS ASMA
Gambaran klasik penderita asma berupa sesak nafas,
batuk-batuk dan mengi (whezzing) telah dikenal oleh umum dan tidak sulit untuk
diketahui. Batuk-batuk kronis dapat merupakan satu-satunya gejala asma dan
demikian pula rasa sesak dan berat didada.Tetapi untuk melihat tanda dan gejala
asma sendiri dapat digolongkan menjadi :
a. Asma tingkat I
Yaitu penderita asma yang secara klinis normal tanpa tanda dan gejala
asma atau keluhan khusus baik dalam pemeriksaan fisik maupun fungsi
paru. Asma akan muncul bila
penderita terpapar faktor pencetus atau saat dilakukan tes provokasi bronchial
di laboratorium.
b. Asma tingkat II
Yaitu penderita asma yang secara klinis maupun pemeriksaan fisik tidak ada
kelainan, tetapi dengan tes fungsi paru nampak adanya obstruksi saluran
pernafasan.Biasanya terjadi setelah sembuh dari serangan asma.
c. Asma tingkat III
Yaitu penderita asma yang tidak memiliki keluhan tetapi pada pemeriksaan
fisik dan tes fungsi paru memiliki tanda-tanda obstruksi. Biasanya penderita merasa tidak sakit tetapi bila
pengobatan dihentikan asma akan kambuh.
d. Asma tingkat IV
Yaitu penderita asma yang sering kita jumpai di klinik atau rumah sakit
yaitu dengan keluhan sesak nafas, batuk atau nafas berbunyi.
Pada
serangan asma ini dapat dilihat yang berat dengan gejala-gejala yang makin
banyak antara lain :
4.
Kontraksi
otot-otot bantu pernafasan, terutama sternokliedo mastoideus
5.
Sianosis
6.
Silent
Chest
7.
Gangguan
kesadaran
8.
Tampak
lelah
9.
Hiperinflasi
thoraks dan takhikardi
e. Asma tingkat V
Yaitu status asmatikus yang merupakan suatu keadaan darurat medis beberapaserangan asma yang berat bersifat refrakter
sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai. Karena pada dasarnya asma
bersifat reversible maka dalam kondisi apapun diusahakan untuk mengembalikan
nafas ke kondisi normal.
5.KOMPLIKASI ASMA
a.
Mengancam pada gangguan keseimbangan asam
basa dan gagal nafas
b.
Chronic persisten bronhitis
c.
Bronchitis
d.
Pneumonia
e.
Emphysema
Meskipun serangan asma jarang ada yang fatal, kadang terjadireaksi kontinu
yang lebih berat, yang disebut “status asmatikus”, kondisi ini mengancam
hidup (Smeltzer & Bare, 2002).
6. PATHWAY ASMA

7.
ANATOMI, FISIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI ASMA
a. Anatomi
Gambar 1. Anatomi sistem pernapasan
Gambar 2. Anatomi keadaan normal dan Asma Bronkhial
1. Organ Pernapasan
ü Hidung
Hidung atau naso
atau nasal merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua
lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi).
Di dalamnya
terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara,
debu, dan kotoran yang masuk ke dalam
lubang hidung.
ü Faring
Faring atau tekak merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan
jalan makanan, terdapat di bawah dasar tengkorak, di belakang rongga hidung,
dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring dengan organ-organ
lain adalah ke atas berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang
yang bernama koana, ke depan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan
ini bernama istmus fausium, ke bawah terdapat 2 lubang (ke depan
lubang laring dan ke belakang lubang esofagus).
ü Laring
Laring atau
pangkal tenggorokan merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan
suara, terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikal dan
masuk ke dalam trakhea di bawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh
sebuah empang tenggorokan yang biasanya disebut epiglotis, yang terdiri dari
tulangtulang rawan yang berfungsi pada
waktu kita menelan makanan menutupi laring.
ü Trakea
Trakea atau batang tenggorokan merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk
oleh 16 sampai 20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk
seperti kuku kuda (huruf C) sebelah dalam diliputi oleh
selaput lendir yang berbulu getar yang
disebut sel bersilia, hanya bergerak ke arah luar. Panjang trakea 9
sampai 11 cm dan di belakang terdiri dari jarigan ikat yang dilapisi oleh otot
polos.
ü Bronkus
Bronkus atau cabang tenggorokan merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah
yang terdapat pada ketinggian vertebra torakalis IV dan V, mempunyai struktur
serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis set yang sama. Bronkus itu
berjalan ke bawah dan ke samping ke arah tampuk paru-paru.Bronkus kanan lebih
pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin,
mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang
kanan, terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang.Bronkus bercabang-cabang,
cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus (bronkioli). Pada bronkioli
tidak terdapat cincin lagi,
dan pada ujung bronkioli
terdapat gelembung paru atau gelembung hawa atau alveoli.
ü Paru-paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari
gelembung (gelembung hawa atau alveoli).Gelembug alveoli ini terdiri dari
sel-sel epitel dan endotel.Jika dibentangkan luas permukaannya kurang lebih 90
m². Pada lapisan ini terjadi pertukaran udara, O2 masuk ke dalam darah
dan CO2 dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang
lebih 700.000.000 buah (paru-paru kiri dan kanan)Paru-paru dibagi dua yaitu
paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus (belahan paru), lobus pulmo dekstra
superior, lobus media, dan lobus inferior. Tiap lobus tersusun oleh
lobulus.Paru-paru kiri, terdiri dari pulmo sinistra lobus superior dan lobus
inferior.Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan yang kecil bernama segmen.
Paru-paru kiri mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior, dan
5 buah segmen pada inferior. Paru-paru kanan mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah
segmen pada lobus superior, 2 buah segmen pada lobus medialis, dan 3 buah
segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap segmen ini masih terbagi lagi menjadi
belahan-belahan yang bernama lobulus.Di antara lobulus satu dengan yang lainnya
dibatasi oleh jaringan ikat yang berisi pembuluh darah getah bening dan saraf,
dan tiap lobulus terdapat sebuah bronkiolus.Di dalam lobulus, bronkiolus
ini bercabang-cabang banyak sekali,
cabang ini disebut duktus
alveolus. Tiap duktus alveolus
berakhir pada alveolus yang diameternya
antara 0,2-0,3 mm.Letak paru-paru di rongga dada datarannya menghadap ke tengah
rongga dada atau kavum mediastinum. Pada bagian tengah terdapat tampuk
paru-paru atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung.
Paru-paru dibungkus oleh selaput yang
bernama pleura. Pleura dibagi menjadi 2 yaitu, yang pertama pleura
visceral (selaput dada pembungkus) yaitu selaput
paru yang langsung membungkus paru-paru. Kedua pleura
parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar. Antara keadaan
normal, kavum pleura ini vakum (hampa) sehingga paru-paru dapat berkembang
kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang berguna untuk meminyaki
permukaanya (pleura), menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada
sewaktu ada gerakan bernapas.
B. Fisiologi Asma
1. Proses terjadi pernapasan
Gambar 3 Proses
pernapasan
Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari
luar yang mengandung oksigen serta menghembuskan udara yang banyak mengandung
karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.Penghisapan udara
ini disebut inspirasi dan menghembuskan disebut ekspirasi. Jadi, dalam paru-paru
terjadi pertukaran zat antara oksigen yang ditarik dan udara masuk kedalam
darah dan CO2 dikeluarkan dari darah secara osmosis. Kemudian CO2
dikeluarkan melalui traktus respiratorius (jalan pernapasan) dan masuk kedalam
tubuh melalui kapiler-kapiler vena pulmonalis kemudian massuk
ke serambi kiri jantung (atrium sinistra) menuju ke
aorta kemudian ke seluruh tubuh (jaringan-jaringan dan sel- sel), di sini
terjadi oksidasi (pembakaran). Sebagai sisa dari pembakaran adalah
CO2 dan dikeluarkan melalui peredaran
darah vena masuk ke jantung (serambi kanan atau atrium
dekstra) menuju ke bilik kanan (ventrikel dekstra) dan
dari sini keluar melalui arteri pulmonalis ke
jaringan paru-paru. Akhirnya dikeluarkan menembus lapisan epitel dari alveoli. Proses
pengeluaran CO2 ini adalah sebagian dari sisa metabolisme, sedangkan sisa dari
metabolisme lainnya akan dikeluarkan melalui traktus urogenitalis dan kulit.
Setelah udara dari
luar diproses, di dalam hidung masih terjadi perjalanan panjang
menuju paru-paru (sampai alveoli). Pada laring
terdapat epiglotis yang berguna untuk menutup laring sewaktu menelan, sehingga
makanan tidak masuk ke trakhea, sedangkan waktu bernapas epiglotis
terbuka, begitu seterusnya. Jika makanan masuk ke dalam laring, maka
akan mendapat serangan batuk, hal tersebut
untuk mencoba mengeluarkan makanan tersebt dari laring.
Terbagi dalam 2
bagian yaitu inspirasi (menarik napas) dan ekspirasi (menghembuskan
napas).Bernapas berarti melakukan inpirasi dan eskpirasi secara bergantian,
teratur, berirama, dan terus menerus.Bernapas merupakan gerak refleks yang
terjadi pada otot-otot pernapasan.Refleks bernapas ini diatur oleh pusat
pernapasan yang terletak di dalam sumsum penyambung (medulla oblongata).Oleh karena
seseorang dapat menahan, memperlambat, atau mempercepat napasnya, ini berarti
bahwa refleks bernapas juga dibawah pengaruh korteks serebri. Pusat pernapasan
sangat peka terhadap kelebihan kadar CO2 dalam darah dan kekurangan dalam
darah. Inspirai terjadi bila muskulus diafragma telah mendapat rangsangan dari
nervus frenikus lalu mengerut datar.
Muskulus
interkostalis yang letaknya miring, setelah ,mendapat rangsangan kemudian
mengerut dan tulang iga (kosta) menjadi datar. Dengan demikian jarak antara
sternum (tulang dada) dan vertebra semakin luas dan melebar. Rongga dada
membesar maka pleura akan tertarik, yang menarik paru-paru sehingga tekanan
udara di dalamnya berkurang dan masuklah udara dari luar.
Ekspirasi, pada
suatu saat otot-otot akan kendor lagi (diafragma akan menjadi cekung, muskulus
interkostalis miring lagi) dan dengan demikian rongga dan
dengan demikian rongga dada menjadi
kecilkembali, maka udara didorong
keluar. Jadi proses respirasi
ataupernapasan ini terjadi karena adanya
perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru.
Pernapasan dada,
pada waktu seseorang bernapas, rangka dada terbesar bergerak, pernapasan ini
dinamakan pernapasan dada. Ini terdapat pada rangka dada yang
lunak, yaitu pada orang-orang muda dan pada perempuan.Pernapasan perut,
jika pada waktu bernapas diafragma turun naik, maka ini
dinamakan pernapasan perut. Kebanyakan pada
orang tua, Karena tulang rawannya tidak begitu lembek dan bingkas lagi
yang disebabkan oleh banyak zat kapur yang mengendap di dalamnya dan banyak
ditemukan pada laki-laki.
c.
Patofisiologi Asma
Tiga unsur yang ikut serta pada obstruksi jalan udara
penderita asma adalah spasme otot polos, edema dan inflamasi membran mukosa jalan udara, dan eksudasi mucus intraliminal,
sel-sel radang dan debris selular. Obstruksi menyebabkan pertambahan resistensi
jalan udara yang merendahkan volume ekspresi paksa dan kecepatan aliran,
penutupan prematur jalan udara, hiperinflasi paru, bertambahnya kerja
pernafasan, perubahan sifat elastik dan frekuensi pernafasan. Walaupun jalan
udara bersifat difus, obstruksi menyebabkan perbedaaan satu bagian dengan
bagian lain, ini berakibat perfusi bagian paru tidak cukup mendapat ventilasi
dan menyebabkan kelainan gas-gas darah terutama penurunan pCO2
akibat hiperventilasi.
Pada respon alergi di saluran nafas, antibodi IgE
berikatan dengan alergen menyebabkan degranulasi sel mast. Akibat degranulasi
tersebut, histamin dilepaskan. Histamin menyebabkan konstriksi otot polos
bronkiolus. Apabila respon histamin berlebihan, maka dapat timbul spasme
asmatik. Karena histamin juga merangsang pembentukan mukkus dan meningkatkan
permiabilitas kapiler, maka juga akan terjadi kongesti dan pembengkakan ruang
iterstisium paru.
Individu yang mengalami asma mungkin memiliki respon
IgE yang sensitif berlebihan terhadap sesuatu alergen atau sel-sel mast-nya
terlalu mudah mengalami degranulasi. Di manapun letak hipersensitivitas respon
peradangan tersebut, hasil akhirnya adalah bronkospasme, pembentukan mukus,
edema dan obstruksi aliran udara.
Gambar 4. Patofisiologi asma
8.
PEMERIKSAAN FISIK
a. Dada
ü Inspeksi
·
Dada posterior dengan posisi duduk
·
Membandingkan dada kanan dan kiri dari atas ke bawah
·
Kulit Thorax : Hangat, pucat, dan kondisi lesi, masa
dan gangguan tulang belakang kifosis,lordosis,scoliosis
·
Catat jumlah jumlah irama, kedalaman, dan kesimetrisan
pergerakan dada
·
Tipe pernafasan
·
Kelainan bentuk dada
ü Palpasi
·
Temperature kulit
·
Premitus : pibrasi dada
·
Pengembangan dada
·
Krepitasi
·
Masa
·
Edema
·
Perkusi
- Normal
- Reasonon
- Dullness
- Tympany
- Abnormal
Hiperresonan
Flatness
ü Auskultasi
·
Vaskuler
·
Broncho vesikuler
·
Hyper ventilasi
·
Ronchi
·
Whizzing
·
Lokasi dan perubahan suara napas serta kapan saat
terjadinya
Berguna
selain untuk menemukan tanda-tanda fisik yang mendukung diagnosis asma dan
menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, juga berguna untuk mengetahui penyakit
yang mungkin menyertai asma, meliputi pemeriksaan :
· Status kesehatan umum
Perlu dikaji tentang kesadaran klien, kecemasan,
gelisah, kelemahan suara bicara, tekanan darah nadi, frekuensi pernapasan yang
meningkatan, penggunaan otot-otot pembantu pernapasan sianosis batuk dengan
lendir dan posisi istirahat klien.
· Integumen
Dikaji adanya permukaan yang kasar,
kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit, kelembapan, mengelupas atau
bersisik, perdarahan, pruritus, ensim, serta adanya bekas atau tanda urtikaria
atau dermatitis pada rambut di kaji warna rambut, kelembaban dan kusam.
ü Thorak
· Inspeksi
Dada di inspeksi terutama postur bentuk
dan kesemetrisan adanya peningkatan diameter anteroposterior, retraksi
otot-otot Interkostalis, sifat dan irama pernafasan serta frekwensi peranfasan.
· Palpasi.
Pada palpasi di kaji tentang kosimetrisan,
ekspansi dan taktil fremitus.
· Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal
sampai hipersonor sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah.
· Auskultasi.
Terdapat suara vesikuler yang meningkat
disertai dengan expirasi lebih dari 4 detik atau lebih dari 3x inspirasi,
dengan bunyi pernafasan dan Wheezing.
ü Sistem pernafasan
· Batuk mula-mula kering tidak produktif kemudian makin
keras dan seterusnya menjadi produktif yang mula-mula encer kemudian menjadi
kental. Warna dahak jernih atau putih tetapi juga bisa kekuningan atau
kehijauan terutama kalau terjadi infeksi sekunder.
· Frekuensi pernapasan meningkat
· Otot-otot bantu pernapasan hipertrofi.
· Bunyi pernapasan mungkin melemah dengan ekspirasi yang
memanjang disertai ronchi kering dan wheezing.
· Ekspirasi lebih daripada 4 detik atau 3x lebih panjang
daripada inspirasi bahkan mungkin lebih.
· Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan:
§ Hiperinflasi paru yang terlihat dengan peningkatan
diameter anteroposterior rongga dada yang pada perkusi terdengar hipersonor.
§ Pernapasan makin cepat dan susah, ditandai dengan
pengaktifan otot-otot bantu napas (antar iga, sternokleidomastoideus), sehingga
tampak retraksi suprasternal, supraclavikula dan sela iga serta pernapasan
cuping hidung.
· Pada keadaan yang lebih berat dapat ditemukan
pernapasan cepat dan dangkal dengan bunyi pernapasan dan wheezing tidak
terdengar(silent chest), sianosis.
ü Sistem kardiovaskuler
· Tekanan darah meningkat, nadi juga meningkat
· Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan:
§ takhikardi makin hebat disertai dehidrasi.
§ Timbul Pulsus paradoksusdimana terjadi penurunan
tekanan darah sistolik lebih dari 10 mmHg pada waktu inspirasi. Normal tidak
lebih daripada 5 mmHg, pada asma yang berat bisa sampai 10 mmHg atau lebih.
· Pada keadaan yang lebih berat tekanan darah menurun,
gangguan irama jantung.
9. PEMERIKSAAN PENUJUANG ASMA
a.
Pemeriksaan
sputum
Pada
pemeriksaan sputum ditemukan :
1. Kristal
–kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari
kristal eosinofil.
2. Terdapatnya Spiral
Curschman, yakni spiral yang merupakan silinder sel-sel cabang-cabang bronkus
3. Terdapatnya Creole
yang merupakan fragmen dari epitel bronkus
4. Terdapatnya neutrofil
eosinofil
b.
Pemeriksaan
darah
Pada
pemeriksaan darah yang rutin diharapkan eosinofil meninggi, sedangkan leukosit
dapat meninggi atau normal, walaupun terdapat komplikasi asma
1. Gas analisa darah
Terdapat
hasil aliran darah yang variabel, akan tetapi bila terdapat peninggian PaCO2
maupun penurunan pH menunjukkan prognosis yang buruk
2. Kadang –kadang pada
darah terdapat SGOT dan LDH yang meninggi
3. Hiponatremi
15.000/mm3 menandakan terdapat infeksi
4. Pada pemeriksaan
faktor alergi terdapat IgE yang meninggi pada waktu seranggan, dan menurun pada
waktu penderita bebas dari serangan.
5. Pemeriksaan tes kulit
untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergennya dapat menimbulkan reaksi
yang positif pada tipe asma atopik.
c.
Foto
rontgen
Pada
umumnya, pemeriksaan foto rontgen pada asma normal. Pada serangan asma,
gambaran ini menunjukkan hiperinflasi paru berupa rradiolusen yang bertambah,
dan pelebaran rongga interkostal serta diagfragma yang menurun. Akan tetapi
bila terdapat komplikasi, kelainan yang terjadi adalah:
1. Bila disertai dengan
bronkhitis, bercakan hilus akan bertambah
2. Bila terdapat
komplikasi emfisema (COPD) menimbulkan gambaran yang bertambah.
3. Bila terdapat
komplikasi pneumonia maka terdapat gambaran infiltrat pada paru.
d.
Pemeriksaan
faal paru
1. Bila FEV1 lebih kecil
dari 40%, 2/3 penderita menujukkan penurunan tekanan sistolenya dan bila lebih
rendah dari 20%, seluruh pasien menunjukkan penurunan tekanan sistolik.
2. Terjadi penambahan
volume paru yang meliputi RV hampi terjadi pada seluruh asma, FRC selalu
menurun, sedangan penurunan TRC sering terjadi pada asma yang berat.
e.
Elektrokardiografi
Gambaran
elektrokardiografi selama terjadi serangan asma dapat dibagi atas tiga bagian
dan disesuaikan dengan gambaran emfisema paru, yakni :
1. Perubahan aksis
jantung pada umumnya terjadi deviasi aksis ke kanan dan rotasi searah jarum jam
2. Terdapatnya
tanda-tanda hipertrofi jantung, yakni tedapat RBBB
3. Tanda-tanda
hipoksemia yakni terdapat sinus takikardi, SVES, dan VES atau terjadinya
relatif ST depresi.
f. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor
alergi dengan berbagai allergen yang dapat menimbulkan reaksi yan positif pada
asma.
10.
PENATALAKSANAAN
MEDIS ASMA
Pengobatan asthma secara garis besar
dibagi dalam pengobatan non farmakologik dan pengobatan farmakologik.
a.
Penobatan non farmakologik
1. Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan
pengetahuan klien tentang penyakit asthma sehinggan klien secara sadar
menghindari faktor-faktor pencetus, serta menggunakan obat secara benar dan berkonsoltasi
pada tim kesehatan.
2. Menghindari faktor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi
pencetus serangan asthma yang ada pada lingkungannya, serta diajarkan cara
menghindari dan mengurangi faktor pencetus, termasuk pemasukan cairan yang
cukup bagi klien.
3. Fisioterapi
Fisioterpi dapat digunakan untuk
mempermudah pengeluaran mukus.Ini dapat dilakukan dengan drainage postural,
perkusi dan fibrasi dada.
b.
Pengobatan farmakologik
1. Agonis beta
Bentuk aerosol bekerja sangat cepat
diberika 3-4 kali semprot dan jarak antara semprotan pertama dan kedua adalan
10 menit. Yang termasuk obat ini adalah metaproterenol ( Alupent, metrapel ).
2. Metil Xantin
Golongan metil xantin adalan aminophilin
dan teopilin, obat ini diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan
hasil yang memuaskan.Pada orang dewasa diberikan 125-200 mg empatkali sehari.
3. Kortikosteroid
Jika agonis beta dan metil xantin tidak
memberikan respon yang baik, harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam
bentuk aerosol ( beclometason dipropinate) dengan disis 800 empat kali
semprot tiap hari. Karena pemberian steroid yang lama mempunyai efek samping
maka yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.
4. Kromolin
Kromolin merupakan obat pencegah asthma,
khususnya anak-anak .Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.
5. Ketotifen
Efek kerja sama dengan kromolin dengan
dosis 2 x 1 mg perhari. Keuntunganya dapat diberikan secara oral.
6. Iprutropioum bromide (Atroven)
Atroven adalah antikolenergik, diberikan
dalam bentuk aerosol dan bersifat bronkodilator.
c. Pengobatan selama serangan status asthmatikus
1. Infus RL : D5 = 3 : 1 tiap 24 jam
2. Pemberian oksigen 4 liter/menit melalui nasal kanul
3. Aminophilin bolus 5 mg / kg bb diberikan pelan-pelan selama 20 menit
dilanjutka drip Rlatau D5 mentenence (20 tetes/menit) dengan dosis 20 mg/kg
bb/24 jam.
4. Terbutalin 0,25 mg/6 jam secara sub kutan.
5. Dexamatason 10-20 mg/6jam secara intra vena.
6. Antibiotik spektrum luas.
11. PENGKAJIAN KEPERAWATAN ASMA
1. Pengkajian Primer Asma
ü Airway
·
Peningkatan
sekresi pernafasan
·
Bunyi
nafas krekles, ronchi, weezing
ü Breathing
·
Distress
pernafasan : pernafasan cuping hidung, takipneu/bradipneu, retraksi.
·
Menggunakan
otot aksesoris pernafasan
·
Kesulitan
bernafas : diaforesis, sianosis
ü Circulation
· Penurunan curah jantung : gelisah, latergi, takikardi
· Sakit kepala
· Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah
· Papiledema
· Urin output meurun
ü Dissability
Mengetahui
kondisi umum dengan pemeriksaan cepat status umum dan neurologi dengan
memeriksa atau cek kesadaran, reaksi pupil.
2. Pengkajian Sekunder Asma
ü Anamnesis
Anamnesis pada penderita asma sangat penting, berguna
untuk mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi
pengobatan. Gejala asma sangat bervariasi baik antar individu maupun pada diri
individu itu sendiri (pada saat berbeda), dari tidak ada gejala sama sekali
sampai kepada sesak yang hebat yang disertai gangguan kesadaran.
Keluhan dan gejala tergantung berat ringannya pada
waktu serangan. Pada serangan asma bronkial yang ringan dan tanpa adanya
komplikasi, keluhan dan gejala tak ada yang khas. Keluhan yang paling umum
ialah : Napas berbunyi, Sesak, Batuk, yang timbul secara tiba-tiba dan dapat
hilang segera dengan spontan atau dengan pengobatan, meskipun ada yang
berlangsung terus untuk waktu yang lama.
a.
ANALISA DATA
|
NO
|
Data penunjang
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
1.
|
DS : pasien mengeluh sukar bernafas, sesak dan
anoreksia
DO : Dispnea parah dg ekspirasi memanjang disertai
wheezing
|
Peningkatan produksi secret, bronchospasme,
menurunnya energy
|
Tidak efektifnya kebersihan jalan nafas
|
|
2.
|
DS : pasien mengaluh sesak nafas,nyeri
dada,batuk,gelisah
DO : Klien nampak Sesak nafas (+)
· Klien Memegang dadanya, Penggunaan otot Bantu
pernapasan
· klien batuk –
batuk
· Ekspresi wajah gelisah
|
Kurangnya suplai O2, bronchospasme, obstruksi jalan
nafas oleh secret destruksi alveoli
|
Gangguan pertukaran gas
|
|
3.
|
|
|
|
B. Diagnosa
Keperawatan Asma Yang Mungkin Muncul
1.
Bersihan
jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan tachipnea, peningkatan produksi
mukus, kekentalan sekresi dan bronchospasme.
2.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
perubahan membran kapiler – alveolar
3.
Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif .
4.
Pola Nafas tidak efektif berhubungan
dengan penyempitan bronkus..
5.
Nyeri akut ulu hati berhubungan dengan proses penyakit.
C. Rencana Keperawatan Asma
|
RENCANA KEPERAWATAN
|
|||||||
|
NO
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
TUJUAN
DAN KRITERIA HASIL (NOC)
|
INTERVENSI (NIC)
|
||||
|
1
|
Bersihan
jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan tachipnea, peningkatan produksi
mukus, kekentalan sekresi dan bronchospasme.
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24
jam, pasien mampu :
Respiratory
status : Ventilation
Respiratory
status : Airway patency
Aspiration
Control,
Dengan
kriteria hasil :
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed
lips)
Menunjukkan jalan
nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi
pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
Mampu
mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat menghambat jalan nafas
|
NIC :
Airway Management
Buka jalan nafas,
guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
Posisikan pasien
untuk memaksimalkan ventilasi
Identifikasi
pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
Pasang mayo bila
perlu
Lakukan
fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret
dengan batuk atau suction
Auskultasi suara
nafas, catat adanya suara tambahan
Lakukan suction
pada mayo
Berikan
bronkodilator bila perlu
Berikan pelembab
udara Kassa basah NaCl Lembab
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2
|
||||
|
2
|
Gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan perubahan membran kapiler – alveolar
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam, pasien mampu :
Respiratory
Status : Gas exchange
Respiratory
Status : ventilation
Vital
Sign Status
Dengan
kriteria hasil :
Mendemonstrasikan
peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
Memelihara
kebersihan paru paru dan bebas dari tanda tanda distress pernafasan
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu
mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
Tanda tanda vital
dalam rentang normal
|
NIC :
Airway
Management
Buka jalan
nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
Posisikan pasien
untuk memaksimalkan ventilasi
Identifikasi
pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
Pasang mayo bila
perlu
Lakukan
fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret
dengan batuk atau suction
Auskultasi suara
nafas, catat adanya suara tambahan
Lakukan suction
pada mayo
Berika
bronkodilator bial perlu
Barikan pelembab
udara
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2
Respiratory
Monitoring
Monitor rata
– rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
Catat
pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
Monitor suara
nafas, seperti dengkur
Monitor
pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes,
biot
Catat
lokasi trakea
Monitor
kelelahan otot diagfragma (gerakan paradoksis)
Auskultasi
suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
Tentukan kebutuhan
suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas utama
Auskultasi
suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasilnya
|
||||
|
3
|
Resiko infeksi dengan faktor
resiko prosedur invasif
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam, pasien mampu :
Immune
Status
Risk
control
Dengan
Kriteria Hasil :
Klien bebas dari
tanda dan gejala infeksi
Menunjukkan
kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
Jumlah
leukosit dalam batas normal
Menunjukkan
perilaku hidup sehat
|
NIC :
Infection Control (Kontrol infeksi)
Bersihkan lingkungan setelah
dipakai pasien lain
Pertahankan teknik isolasi
Batasi pengunjung bila perlu
Instruksikan pada pengunjung
untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan
pasien
Gunakan sabun antimikrobia
untuk cuci tangan
Cuci tangan setiap sebelum dan
sesudah tindakan kperawtan
Gunakan baju, sarung tangan
sebagai alat pelindung
Pertahankan lingkungan aseptik
selama pemasangan alat
Ganti letak IV perifer dan
line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
Gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi kandung kencing
Tingkatkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik bila perlu
Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
Monitor hitung granulosit, WBC
Monitor kerentanan terhadap
infeksi
Batasi pengunjung
Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
Partahankan teknik aseptic
pada pasien yang beresiko
Pertahankan teknik isolasi k/p
Berikan perawatan kulit pada
area epidema
Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
Inspeksi kondisi luka / insisi
bedah
Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai resep
Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
Ajarkan cara menghindari
infeksi
Laporkan kecurigaan infeksi
Laporkan kultur positif
|
||||
|
4
|
Pola Nafas tidak efektif
berhubungan dengan penyempitan bronkus
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam, pasien mampu :
Respiratory
status : Ventilation
Respiratory
status : Airway patency
Vital
sign Status
Dengan
Kriteria Hasil :
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed
lips)
Menunjukkan jalan nafas
yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan
dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
Tanda Tanda vital dalam
rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)
|
NIC :
Airway
Management
Buka jalan
nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
Posisikan pasien
untuk memaksimalkan ventilasi
Identifikasi
pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan
fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret
dengan batuk atau suction
Auskultasi suara
nafas, catat adanya suara tambahan
Lakukan suction
pada mayo
Berikan
bronkodilator bila perlu
Berikan pelembab
udara Kassa basah NaCl Lembab
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2
Terapi Oksigen
Bersihkan mulut,
hidung dan secret trakea
Pertahankan
jalan nafas yang paten
Atur
peralatan oksigenasi
Monitor
aliran oksigen
Pertahankan
posisi pasien
Observasi
adanya tanda tanda hipoventilasi
Monitor adanya
kecemasan pasien terhadap oksigenasi
Vital sign Monitoring
Monitor TD, nadi,
suhu, dan RR
Catat
adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor
VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
Auskultasi TD pada
kedua lengan dan bandingkan
Monitor TD, nadi,
RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
Monitor
kualitas dari nadi
Monitor
frekuensi dan irama pernapasan
Monitor
suara paru
Monitor
pola pernapasan abnormal
Monitor suhu,
warna, dan kelembaban kulit
Monitor
sianosis perifer
Monitor adanya
cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi
penyebab dari perubahan vital sign
|
||||
|
5
|
Nyeri akut
ulu hati berhubungan dengan proses penyakit.
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam, pasien mampu :
Pain
Level,
Pain
control,
Comfort
level
Dengan
Kriteria Hasil :
Mampu
mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
Melaporkan bahwa
nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
Mampu mengenali
nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri berkurang
Tanda
vital dalam rentang normal
|
NIC :
Pain Management
Lakukan pengkajian
nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi
Observasi
reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Gunakan teknik
komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
Kaji kultur yang
mempengaruhi respon nyeri
Evaluasi
pengalaman nyeri masa lampau
Evaluasi bersama
pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa
lampau
Bantu pasien dan
keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
Kontrol lingkungan
yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
Kurangi
faktor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan
penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
Kaji
tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan
tentang teknik non farmakologi
Berikan
analgetik untuk mengurangi nyeri
Evaluasi
keefektifan kontrol nyeri
Tingkatkan
istirahat
Kolaborasikan
dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
Monitor
penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
Analgesic Administration
Tentukan
lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
Cek instruksi
dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
Cek
riwayat alergi
Pilih analgesik
yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari
satu
Tentukan
pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
Tentukan
analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
Pilih rute
pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur
Monitor vital sign
sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
Berikan
analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
Evaluasi
efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
|
||||
DAFTAR PUSTAKA
1.
Almazini, P. 2012. Bronchial
Thermoplasty Pilihan Terapi Baru untuk Asma Berat. Jakrta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
2.
Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan,
Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6. Jakarta: EGC
3.
Corwin,
Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
4.
GINA (Global Initiative for Asthma) 2006.; Pocket Guide for Asthma
Management and Prevension In Children. www. Dimuat dalam www.Ginaasthma.org
5.
Johnson, M., et all. 2000. Nursing
Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
6.
Linda Jual Carpenito, 2001. Buku
Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
7.
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita
Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius
8.
Mc Closkey, C.J., et all.
1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
9.
Purnomo. 2008. Faktor Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap
Kejadian Asma Bronkial Pada Anak. Semarang: Universitas Diponegoro
10.
Ruhyanudin, F. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan
Sistem Kardio Vaskuler. Malang : Hak Terbit UMM Press
11.
Saheb, A. 2011. Penyakit Asma. Bandung: CV medika







Tidak ada komentar:
Posting Komentar