Senin, 20 November 2017

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN ISTRAHAT DAN TIDUR

LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN ISTRAHAT DAN TIDUR

                               I.            Konsep Dasar Istirahat dan Tidur
1.1.Definisi
Kata ‘istirahat’ mempunyai arti yang sangat luas meliputi bersantai, menyegarkan diri, diam menganggur setelah melakukan aktivitas, serta melepaskan diri dari apapun yang membosankan, menyulitkan atau menjengkelkan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa istirahat merupakan keadaan yang tenang, rileks, tanpa tekanan emosional dan bebas dari kecemasan (Asmadi, 2008).
Istirahat adalah suatu keadaan dimana kegiatan jasmaniah menurun yang berakibat badan menjadi lebih segar (Asmadi, 2008). Terdapat beberapa karakteristik dari istirahat, Narrow (1967), yang dikutip oleh Potter dan Perry (1993), mengemukakan enam karakteristik yang berhubungan dengan istirahat, diantaranya:
a.        Merasa segala sesuatu dapat diatasi dan di bawah kontrolnya.
b.      Merasa diterima eksistensinya baik di tempat tinggal, kantor, atau
dimanapun. Juga termasuk ide-idenya diterima oleh orang lain.
c.       Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan.
d.      Memiliki kepuasan terhadap aktivitas yang dilakukannya.
e.       Mengetahui adanya bantuan sewaktu-waktu bila memerlukan.
Kebutuhan istirahat dapat dirasakan apabila semua karakteristik tersebut di atas dapat terpenuhi. Hal ini dapat dijumpai apabila pasien merasakan segala kebutuhannya dapat diatasi dan adanya pengawasan maupun penerimaan dari asuhan keperawatan yang diberikan sehingga dapat memberikan kedamaian. Apabila pasien tidak merasakan enam kriteria tersebut di atas, maka kebutuhan istirahatnya masih belum terpenuhi sehingga diperlukan tindakan keperawatan yang dapat meningkatkan terpenuhinya kebutuhan istirahat dan tidur, misalnya mendengarkan secara hati hati tentang kekhawatiran personal pasien dan mencoba meringankannya jika memungkinkan (Alimul, 2006).
Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda (Tarwoto & Wartonah, 2006).
Tidur juga merupakan suatu keadaantidak sadar dimana persepsi dan reaksi  individu terhadap lingkungan menurun atau hilang, dan dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Asmadi, 2008). Tujuan seseorang tidur tidak jelas diketahui, namun diyakini tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental emosional, fisiologis dan kesehatan.
Seseorang dapat dikategorikan sedang tidur apabila terdapat tanda-tanda sebagai berikut (Asmadi, 2008):
a.       Aktifitas fisik minimal
b.      Tingkat kesadaran yang bervariasi
c.       Terjadi perubahan- perubahan proses fisiologis tubuh, dan
d.      Penurunan respons terhadap rangsangan dari luar.
Selama tidur, dalam tubuh seseorang terjadi perubahan proses fisiologis, perubahan tersebut antara lain (Amadi, 2008): a. Penurunan tekanan darah, denyut nadi. b. Dilatasi pembuluh darah perifer. c. Kadang-kadang terjadi peningkatan aktivitas traktus gastroinstestinal. d. Relaksasi otot-otot rangka. e. Basal metabolisme rate (BMR) menurun 10-30%.




1.2.Fisiologi Tidur
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan sistem yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur. Pusat pengaturan kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons (Potter & Perry, 2005).
Selain itu, reticular activating system (RAS) dapat memberi rangsangan visual, pendengaran, nyeri dan perabaan juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir. Dalam keadaan sadar, neuron dalam RAS akan melepaskan katekolamin seperti norepineprin. Demikian juga pada saat tidur, disebabkan adanya pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing regional (BSR), sedangkan bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima di pusat otak dan system limbic. Dengan demikian, sistem pada batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR (Potter & Perry, 2005).
Tidur merupakan aktivitas yang melibatkan susunan saraf pusat, saraf perifer, endokrin kardiovaskuler, respirasi dan muskuloskeletal. Tiap kejadian tersebut dapat diidentifikasi atau direkam dengan electroencephalogram (EEG) untuk aktivitas listrik otak, pengukuran tonus otot dengan menggunakan electromiogram (EMG) dan electroculogram (EOG) untuk mengukur pergerakan mata (Tarwoto & Wartonah, 2006).
Pengaturan dan kontrol tidur tergantung dari hubungan antara dua mekanisme selebral yang secara bergantian mengaktifkan dan menekan pusat otak untuk tidur dan bangun. Reticular activating system (RAS) di bagian batang otak atas diyakini mempunyai sel-sel khusus dalam mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran. RAS memberikan stimulus visual, audiotori, nyeri, dan sensori raba. Juga menerima stimulus dari korteks serebri (emosi, proses pikir) (Tarwoto & Wartonah, 2006).
Pada keadaan sadar mengakibatkan neuron-neuron dalam RAS melepaskan katekolamin, misalnya norepineprine. Saat tidur mungkin disebabkan oleh pelepasan serum serotonin dari sel-sel spesifik di pons dan batang otak tengah yaitu bulbur synchronizing regional (BSR). Bangun dan tidurnya seseorang tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima dari pusat otak, reseptor sensori perifer misalnya bunyi, stimulus cahaya, dan sistem limbiks seperti emosi (Tarwoto & Wartonah, 2006).
Seseorang yang mencoba untuk tidur, mereka menutup matanya dan berusaha dalam posisi rileks. Jika ruangan gelap dan tenang aktivitas RAS menurun, pada saat itu BSR mengeluarkan serum serotonin (Tarwoto & Wartonah, 2006).

1.3.Tahapan Tidur
EEG, EMG, dan EOG dapat mengidentifikasi perbedaan signal pada level otak, otot, dan aktivitas mata. Normalnya tidur dibagi menjadi dua yaitu non rapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM). Selama masa NREM seseorang terbagi menjadi empat tahapan dan memerlukan kira-kira 90 menit selama siklus tidur. Sedangkan tahapan REM adalah tahapan terakhir kira-kira 90 menit sebelum tidur berakhir (Tarwoto & Wartonah, 2010)
Tahapan tidur menurut Potter & Perry (2005), yaitu :
1.      Tahapan tidur NREM
a.       NREM tahap I
a)      Tingkat transisi
b)      Merespons cahaya
c)      Berlangsung beberapa menit
d)     Mudah terbangun dengan rangsangan
e)      Aktivitas fisik, tanda vital, dan metabolisme menurun
f)       Bila terbangun terasa sedang bermimpi
b.      NREM tahap II
a)      Periode suara tidur
b)      Mulai relaksasi otot
c)      Berlangsung 10-20 menit
d)     Fungsi tubuh berlangsung lambat
e)      Dapat dibangunkan dengan mudah
c.       NREM tahap III
a)      Awal tahap dari keadaan tidur nyenyak
b)      Sulit dibangunkan
c)      Relaksasi otot menyeluruh
d)     Tekanan darah menurun
e)      Berlangsung 15-30 menit
d.      NREM tahap IV
a)      Tidur nyenyak
b)      Sulit untuk dibangunkan, butuh stimulus intensif
c)      Untuk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun
d)     Sekresi lambung menurun
e)      Gerak bola mata cepat

2.      Tahapan tidur REM
a.        Lebih sulit dibangunkan dibandingkan dengan tidur NREM
b.      Pada orang dewasa normal REM yaitu 20-25% dari tidur malamnya
c.       Jika individu terbangun pada tidur REM, maka biasanya terjadi mimpi
d.      Tidur REM penting untuk keseimbangan mental, emosi juga berperan dalam belajar, memori, dan adaptasi

3.      Karakteristik tidur REM
a.       Mata : cepat tertutup dan terbuka
b.      Otot-otot : kejang otot kecil, otot besar imobilisasi
c.       Pernapasan : tidak teratur, kadang dengan apnea
d.      Nadi : cepat dan reguler
e.      Tekanan darah : meningkat atau fluktuasi
f.        Sekresi gaster : meningkat
g.       Metabolisme : meningkat, temperatur tubuh naik
h.      Gelombang otak : EEG aktif
i.         Siklus tidur : sulit dibangunkan

1.4.Siklus Tidur
Secara normal, pada orang dewasa, pola tidur rutin dimulai dengan periode sebelum tidur, selama seseorang terjaga hanya pada rasa kantuk yang bertahap berkembang secara teratur. Periode ini secara normal berakhir 10 hingga 30 menit, tetapi untuk seseorang yang memiliki kesulitan untuk tertidur, akan berlangsung satu jam atau lebih (Potter & Perry, 2005).
 Ketika seseorang tertidur, biasanya melewati 4 sampai 6 siklus tidur penuh, tiap siklus tidur terdiri 4 tahap dari tidur NREM dan satu periode dari tidur REM. Pola siklus biasanya berkembang dari tahap 1 menuju ke tahap 4 NREM, diikuti kebalikan tahap 4 ke 3, lalu ke 2, diakhiri dengan periode dari tidur REM. Seseorang biasanya mencapai tidur REM sekitar 90 menit ke siklus tidur (Potter & Perry, 2005).
Dengan tiap-tiap siklus yang berhasil, tahap 3 dan 4 memendek, dan memperpanjang periode REM. Tidur REM dapat berakhir sampai 60 menit selama akhir siklus tidur. Tidak semua orang mengalami kemajuan yang konsisten menuju ke tahap tidur yang biasa. Sebagai contoh, orang yang tidur dapat berfluktuasi untuk interval pendek antara NREM tingkat 2, 3, dan 4 sebelum masuk tahap REM. Jumlah waktu yang digunakan tiap tahap bervariasi. Perubahan tahap ke tahap cenderung menemani pergerakan tubuh dan perpindahan untuk tidur yang dangkal cenderung terjadi tiba-tiba, dengan perpindahan untuk tidur nyenyak cenderung bertahap (Closs, 1988 dalam Potter & Perry, 2005).





1.5.Fungsi Tidur
Kegunaan tidur masih tetap belum jelas (Hodgson, 1991), tidur dipercaya mengkontribusi pemulihan fisiologis dan psikologis (Oswald, 1984; Anch dkk, 1988, dalam Potter & Perry, 2005). Tidur diperlukan untuk memperbaiki proses biologis secara rutin. Selama tidur gelombang rendah yang dalam (NREM tahap 4), tubuh melepaskan hormon pertumbuhan manusia untuk memperbaiki dan memperbaharui sel epitel dan khusus seperti sel otak (Home, 1983; Mandleson, 1987; Born, Muth, dan Fehm, 1988 dalam Potter & Perry, 2005). Tidur REM terlihat penting untuk pemulihan kognitif.
Tidur REM dihubungkan dengan perubahan dalam aliran darah serebral, peningkatan aktivitas kortikal, peningkatan konsumsi oksigen dan pelepasan epinefrin. Hubungan ini dapat membantu penyimpanan memori dan pembelajaran (Potter & Perry, 2005). Secara umum, ada dua efek fisiologis dari tidur yaitu efek pada sistem saraf yang dapat memulihkan kepekaan dan keseimbangan diantara berbagai susunan saraf dan efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi organ tubuh (Hidayat, 2006).

1.6.Kebutuhan dan Pola Tidur Normal
Durasi dan kualitas tidur beragam diantara orang-orang dari semua kelompok usia. Seseorang mungkin merasa cukup beristirahat dengan 4 jam tidur, sementara yang lain membutuhkan 10 jam. Kebutuhan dan pola tidur normal menurut Potter dan Perry (2010), yaitu :
1.      Neonatus sampai dengan 3 bulan
a.       Kira-kira membutuhkan 16 jam/hari
b.      Mudah berespons terhadap stimulus
c.       Pada minggu pertama kelahiran 50% adalah tahap REM
2.       Bayi
a.       Pada malam hari kira-kira tidur 8-10 jam
b.      Usia 1 bulan sampai dengan 1 tahun kira-kira tidur 14 jam/hari
c.       Tahap REM 20-30%
3.      Toddler
a.       Tidur 10-12 jam/hari
b.      Tahap REM 25%
4.      Prasekolah
a.       Tidur 11 jam pada malam hari
b.      Tahap REM 20%
5.      Usia sekolah
a.        Tidur 10 jam pada malam hari
b.      Tahap REM 18,5%
6.      Remaja
a.       Tidur 8,5 jam pada malam hari
b.      Tahap REM 20%
7.       Dewasa muda
a.       Tidur 7-9 jam/hari
b.      Tahap REM 20-25%
8.      Usia dewasa pertengahan
a.       Tidur kurang lebih 7 jam /hari
b.      Tahap REM 20%
9.      Usia tua
a.       Tidur kurang lebih 6 jam/hari
b.      Tahap REM 20-25%


1.7.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tidur
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi tidur yaitu :
1.      Penyakit Seseorang yang mengalami sakit memerlukan waktu tidur lebih banyak dari normal. Namun demikian, keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur. Misalnya pada pasien dengan gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit persyarafan.
2.      Lingkungan Pasien yang biasa tidur pada lingkungan yang tenang dan nyaman, kemudian terjadi perubahan suasana seperti gaduh maka akan menghambat tidurnya.
3.      Motivasi Motivasi dapat mempengaruhi tidur dan dapat menimbulkan keinginan untuk tetap bangun dan waspada menahan kantuk.
4.      Kelelahan Kelelahan dapat memperpendek periode pertama dari tahap REM.
5.      Kecemasan Pada keadaan cemas seseorang mungkin meningkatkan saraf simpatis sehingga mengganggu tidurnya.
6.      Alkohol Alkohol menekan REM secara normal, seseorang yang tahan minum alkohol dapat mengakibatkan insomnia dan lekas marah.
7.      Obat-obatan Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidur antara lain:
a.       Diuretik : menyebabkan insomnia
b.      Antidepresan : menyupresi REM
c.       Kafein : meningkatkan saraf simpatik
d.      Narkotika : menyupresi REM

  
1.8.Gangguan Tidur
a.       Pengertian Gangguan Tidur \
Gangguan tidur adalah kondisi yang jika tidak diobati, secara umum akan menyebabkan gangguan tidur malam yang mengakibatkan munculnya salah satu dari ketiga masalah berikut: insomnia adalah gerakan atau sensasi abnormal dikala tidur atau ketika terjaga ditengah malam atau rasa mengantuk yang berlebihan di siang hari (Naylor dan Aldrich, 1994, dalam Potter & Perry, 2005).

b.      Klasifikasi Gangguan Tidur
Klarifikasi gangguan tidur menurut Potter & Perry (2005), yaitu:
1.      Insomnia Insomnia adalah suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan tidur yang hanya sebentar atau susah tidur. Insomnia ini terbagi menjadi dua jenis yaitu: pertama initial insomnia yang merupakan ketidakmampuan untuk jatuh tidur atau mengawali tidur, karena selalu terbangun pada malam hari dan ketiga terminal insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tidur kembali setelah bangun tidur pada malam hari (Alimul, 2012).
2.      Apnea Tidur
Apnea tidur adalah gangguan yang dicirikan dengan kurangnya aliran udara melalui hidung dan mulut selama periode 10 detik atau lebih pada saat tidur (Potter & Perry, 2005).
Ada tiga jenis apnea tidur: apnea sentral, obstruktif, dan campuran yang mempunyai komponen apnea sentral dan obstruktif, dan campuran yang mempunyai komponen apnea sentral dan obstruktif.
Bentuk yang paling banyak terjadi, apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea/OSA), terjadi pada saat otot atau struktur rongga mulut atau tenggorokan rileks pada saat tidur. Jalan napas atas menjadi tersumbat sebagian atau seluruhnya, dan aliran udara pada hidung berkurang (hipopnea) atau berhenti (apnea) selama 30 detik (Guilleminault, 1994). The National Commission on Sleep Disorders Research (1993), memperkirakan bahwa 18 juta orang di Amerika Serikat memenuhi kriteria diagnostik untuk OSA.
Klien yang mengalami apnea tidur seringkali tidak memiliki tidur dalam yang signifikan. Selain itu banyak juga terjadi keluhan mengantuk yang berlebihan di siang hari, serangan tidur, keletihan, sakit kepala di pagi hari, dan menurunnya gairah seksual.
3.      Narkolepsi
Keadaan yang tidak dapat dikendalikan untuk tidur seperti seseorang dapat tidur dalam keadaan berdiri, mengemudikan kendaraan, dan lain-lain (Alimul, 2012).
4.      Deprivasi Tidur
Deprivasi tidur adalah masalah yang dihadapi banyak klien sebagai akibat insomnia. Penyebabnya dapat mencakup penyakit (misalnya, demam, sulit bernapas, atau nyeri), stres emosional, obat-obatan, gangguan lingkungan (misalnya asuhan keperawatan yang sering dilakukan) dan keanekaragaman waktu tidur yang terkait dengan waktu kerja. Deprivasi tidur melibatkan penurunan kuantitas dan kualitas tidur serta ketidak konsistenan waktu tidur. Apabila tidur mengalami gangguan atau terputus-putus, dapat terjadi perubahan urutan siklus tidur normal dant terjadi deprivasi tidur kumulatif.
5.      Parasomnia
Parasomnia adalah kumpulan dari penyakit yang dapat mengganggu pola tidur seperti somnambulisme (berjalan-jalan dalam tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak dalam tahap III dan IV dari tidur REM (Alimul, 2012)



                            II.            Rencana Asuhan Keperawatan Klien dengan gangguan Aktivitas istirahat tidur.
2.1.Pengkajian
Pengkajian keperawatan pada masalah kebutuhan istirahat dan tidur ini antara lain: riwayat tidur, gejala klinis, dan penyimpangan dari tidur (Tarwoto dan Wartonah, 2010).
1.      Riwayat tidur
Pengkajian riwayat tidur antara lain: kuantitas (lama tidur) dan kualitas tidur di siang maupun malam hari, aktivitas dan rekreasi yang dilakukan sebelumnya, kebiasaan sebelum ataupun pada saat tidur, lingkungan tidur, dengan siapa pasien tidur, obat yang dikonsumsi sebelum tidur, asupan dan stimulan, perasaan pasien mengenai tidurnya, apakah ada kesulitan tidur, dan apakah ada perubahan pola tidur.
2.      Gejala klinis
Gejala klinis ditandai dengan perasaan lelah, gelisah, emosi, apatis, adanya kehitaman di daerah sekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, dan mata perih, perhatian tidak fokus, serta sakit kepala.
3.      Penyimpangan tidur
Penyimpangan tidur meliputi perubahan tingkah laku dan auditorik, meningkatnya kegelisahan, gangguan persepsi, halusinasi visual dan auditorik, bingung, dan disorientasi tempat dan waktu, ganguan koordinasi, serta bicara rancu, tidak sesuai, dan intonasinya tidak teratur.
Perawat harus selalu mengkaji pola tidur pasien untuk melengkapi dokumentasi keperawatan. Pengkajian pola tidur pasien tidak cukup jika hanya bertanya “apakah kamu tidur nyenyak tadi malam?” seorang perawat haruslah bertanya jika pasien merasa kesulitan untuk tidur mengalami bangun lebih awal dan susah untuk kembali tidur, dan merasa istirahat/tidurnya cukup di pagi hari. Selanjutnya, perawat haruslah bertanya jika pasien merasa lelah dan mengantuk sepanjang hari. Pertanyaan untuk perawat tanyakan, yaitu (Noreen & Lawrence, 2001):
1.      Berapa lama waktu untuk tertidur pada malam hari?
2.      Apakah kamu sering terbangun? Jika iya, berapa kali dalam semalam?
3.      Jika kamu terbangun pada malam hari, bisakah kamu kembali tidur?
4.       Apakah kamu merasa tidur/istirahat mu cukup di pagi hari?
5.      Apakah kamu mempunyai cukup energi untuk melaksanakan tugas mu sepanjang hari?
6.      Apakah kamu temukan dirimu mengantuk atau tidur selama dikelas atau pertemuan, atau ketika kamu menonton TV atau film?
Evaluasi klien apakah banyak perubahan lingkungan berhubungan dengan kamar tidur dan rumah tangga yang bisa menjadi pengaruh perubahan di dalam siklus tidur.
Pertanyaan untuk perawat tanyakan, yaitu (Noreen & Lawrence, 2001):
1.       Sudahkah kamu mengubah dimana kamu tidur?
2.      Adakah perubahan didalam rumah tangga yang bisa mempengaruhi tidur?
3.      Adakah perubahan di lingkungan kamu (tetangga, lalu lintas) yang bisa mempengaruhi tidur? Menentukan apakah ada banyak stressor emosional yang bisa menjadi pendukung kemampuan untuk tidur.
Sebuah pertanyaan untuk perawat tanyakan, yaitu (Noreen & Lawrence, 2001):
1.      Apakah kamu menemukan dirimu terjaga pada malam hari karena cemas akan suatu masalah atau suatu aktivitas yang akan datang?

 Pengkajian asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan tidur menurut Tarwoto & Wartonah (2010), yaitu:
1.      Riwayat keperawatan
a.       Kebiasaan pola tidur bangun, apakah ada perubahan pada waktu tidur, jumlah jam tidur, kualitas tidur, apakah mengalami kesulitan tidur, sering terbangun pada saat tidur, apakah mengalami mimpi yang mengancam.
b.      Dampak pola tidur terhadap fungsi sehari-hari: apakah merasa segar saat bangun, apa yang terjadi jika kurang tidur.
c.        Adakah alat bantu tidur: apa yang anda lakukan sebelum tidur, apakah menggunakan obat-obatan untuk membantu tidur
d.      Gangguan tidur atau faktor-faktor kontribusi: jenis gangguan tidur, kapan masalah itu terjadi.

2.      Pemeriksaan fisik
a.       Observasi penampilan wajah, perilaku, dan tingkat energi pasien
b.      Adanya lingkaran hitam disekitar mata, mata sayu, dan konjungtiva merah.
c.       Perilaku: iritabel, kurang perhatian, pergerakan lambat, bicara lambat, postur tubuh tidak stabil, tangan tremor, sering menguap, mata tampak lengket, menarik diri, bingung, dan kurang koordinasi.

3.      Pemeriksaan diagnostik
menurut Tarwoto & Wartonah (2010), yaitu: a. Elektroencefalogram (EEG) adalah alat untuk mengukur aktivitas listrik dalam korteks serebral (otak). b. Elektromiogram (EMG) adalah alat untuk mengukur tonus otot. c. Elektrookulogram (EOG) adalah alat untuk mengukur gerakan mata dan memberikan informasi struktur aspek fisiologis tidur.


2.2.. ANALISA DATA
No.
Data
Etiologi
masalah

DS :
-          Klien mengatakan sering melihat bayangan hitam sehingga klien sulit tidur
DO:
-          Klien tampak cemas
-          Terlihat lingkaran hitam dibawah mata - Mata klien tampak bengkak karena kurang tidur
-          Tampak lemas dan gelisah
halusinasi
Deprivasi tidur

DS :
-          Klien mengatakan jika melihat air klien merasa menggigil
DO :
-          Klien tampak menggigil - Klien terlihat kotor, berbau,
-          Penampilan klien tidak rapi karena rambut klien acak-acak kan, jika disentuh lengket - Keringat berbau - Kuku tangan dan kaki hitam
ketidakmauan untuk mandi
Pengabaian diri

2.3.  DIAGNOSA KEPERAWATAN (PRIORITAS)
1.        Deprivasi tidur berhubungan dengan halusinasi penglihatan ditandai dengan klien mengatakan sering melihat bayangan hitam sehingga pasien sulit tidur dan klien tampak cemas, terlihat lingkaran hitam dibawah mata klien, mata klien tampak bengkak, klien juga tampak lemas dan gelisah.
2.       Pengabaian diri berhubungan dengan ketidakmauan untuk mandi dan membersihkan diri ditandai dengan klien tampak menggigil ketika mau mandi, penampilan tidak rapi kotor karena rambut klien acak-acak kan, jika disentuh lengket, keringat berbau, dan kuku tangan dan kaki klien tampak hitam.



2.4.      NURSING CARE PLANNING
No
No. Dx
Nursing outcame
Nursing intervention Clasification
1
Deprivasi Tidur
bd halusinasi 
Tujuan dan Kriteria Hasil: Klien akan mampu menunjukkan tidur/Sleep dengan skala 3 pada indikator :
Indikator
IR
ER
1.       Perasaan segar setelah tidur


2.       Pola dan kualitas tidur


3.       Rutinitas tidur


4.       Jumlah waktu tidur yang terobservasi


5.       Terjaga pada waktu yang tepat


Nic : Peningkatan tidur/Sleep Enhancement dengan aktivitas:
1.       Lakukan masalah gangguan tidur pasien, karakteristik, dan penyebab kurang tidur.
2.       Lakukan Persiapan untuk tidur seperti pada jam 9 malam sesuai dengan pola tidur pasien.
3.       Keadaan tempat tidur yang nyaman, bersih, dan bantal yang nyaman.
4.       Tingkatkan aktivitas sehari-hari dan kurangi aktivitas sebelum tidur.
5.       Pengetahuan kesehatan: jadwal tidur mengurangi stres, cemas, dan latihan relaksasi.
2.4.NURSING CARE PLANNING
No
No. Dx
Nursing outcame
Nursing intervention Clasification
2
Pengabaian Diri
bd
ketidakmauan untuk mandi
Tujuan dan Kriteria Hasil : Dalam waktu 1x8 jam klien akan mampu mempertahan kan tindakan untuk meningkatkan kesehatan perilaku/ Health Promoting Behavior yang dibuktikan dengan skala 3 pada indikator :
Indikator
IR
ER
1.       Klien mampu melakukan prilaku hidup sehat secara rutin


2.       Klien akan mampu memonitor prilaku pribadi yang dapat menyebabkan faktor risiko


Manajemen perilaku/behavior management :
1.       Pertahankan tanggung jawab pasien atas perilakunya
2.       Bantu menetapkan perubahan yang konsisten dalam lingkungan dan perawatan rutin
3.       Gunakan nada bicara yang rendah saat berkomunikasi dengan klien
Bantuan Perawatan Diri Mandi/ Self - Care Assistance Bathing
1.        Menentukan jumlah dan jenis bantuan yang dibutuhkan.
2.       Memfasilitasi sikat gigi pasien yang sesuai.
3.       Mempertahankan kebersihan.

2.5.      IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

No
Dx
Implementasi Keperawatan
Evaluasi
1
Deprivasi tidur bd halu
1.       Mengkaji masalah ganguan tidur pasien, karakteristik, dan penyebab kurang tidur.
2.       Mempersiapkan Klien untuk tidur malam seperti pada jam 9 malam sesuai dengan pola tidur pasien
3.       Memberi posisi tempat tidur yang nyaman, bersih, dan bantal yang nyaman.
4.       Meningkatkan aktivitas sehari-hari dengan mengurangi aktivitas sebelum tidur.
5.       Memberikan pengetahuan kesehatan.
S :
-          Klien mengatakan sulit untuk tidur karena sering melihat bayangan hitam ketika mau tidur
O :
-           Klien tampak cemas - Tampak lingkaran hitam dibawah mata - Mata tampak bengkak
-           TD : 110/70 mmHg
-          HR : 64x/menit
-          RR : 22x/menit –
-          Temp : 37,50C

A : Masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan
1)      Klien akan merasakan segar setelah tidur dengan skala 3 dengan peningkatan tidur yang dilakukan
2)      Klien akan mampu menunjukkan pola dan kualitas tidur yang baik dengan skala 3 dengan peningkatan tidur yang dilakukan
3)      Klien akan mampu menunjukkan rutinitas tidur yang baik dengan skala 3 dengan peningkatan tidur yang dilakukan.
4)      Klien akan mampu menunjukkan jumlah waktu tidur yang terobservasi dengan skala 3 dengan peningkatan tidur yang dilakukan.
5)      Klien akan mampu menunjukkan tidurnya terjaga pada waktu yang tepat dengan skala 3 dengan peningkatan tidur yang dilakukan.























2.6.IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
No
No. Dx
Implementasi keperawatan
Evaluasi
1
Pengabaian diri
Menajemen Perilaku/Behaviour Management :
1.        Mempertahankan tanggung jawab pasien atas perilakunya
2.       Membantu menetapkan perubahan yang konsisten dalam lingkungan dan perawatan rutin
3.       Menggunakan nada bicara yang rendah

Bantu Perawatan Diri Mandi/SelfCare Assistance Bathing.
1.       Menentukan jumlah dan jenis bantuan yang dibutuhkan
2.       Memfasilitasi sikat gigi pasien yang sesuai
3.       Mempertahankan kebersihan.
S :
-          Klien mengatakan belum melakukan rutinitas perawatan dirinya
O :
-          Klien tampak tidak peduli dengan perawatn dirinya
-          Klien tampak jorok dan penampilan nya tidak rapi karena rambut klien acak-acak kan, jika disentuh lengket, kuku tangan dan kaki tampak hitam.
A :
-          Masalah belum teratasi
P :
-           Intervensi dilanjutkan
-          Klien mampu melakukan perilaku hidup sehat secara rutin dengan skala 3 dengan manajemen perilaku yang dilakukan
-          Klien akan mampu memonitori perilaku pribadi yang dapat menyebabkan faktor risiko dengan skala 3 dengan manajemen prilakunya